Logo Header Antaranews Jogja

Mewaspadai Gunung Slamet agar selamat

Selasa, 11 Maret 2014 14:08 WIB
Image Print
Gunung Slamet (Foto antaranews.com)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Gunung Slamet (3.428 mdpl) di Jawa Tengah status aktivitas vulkaniknya meningkat dari normal atau level I menjadi waspada atau level II sejak 10 Maret 2014 pukul 21.00 WIB.

Terjadi peningkatan kegempaan dari aktivitas Gunung Slamet sejak 2 Maret lalu. Itu yang menjadi alasan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status dari normal menjadi waspada.

Itu artinya, aktivitas Gunung Slamet yang berada di wilayah Kabupaten Purbalingga, Banyumas, Brebes, Tegal dan Pemalang tersebut, perlu diwaspadai demi keselamatan semuanya.

Kepala Badan Geologi Surono menyebutkan terjadi peningkatan kegempaan di Gunung Slamet. Peningkatan kegempaan sudah berlangsung sejak 2 Maret 2014 sampai sekarang. Tercatat pada tanggal 8 hingga 10 Maret 2014 terjadi 441 gempa hembusan, dan sembilan kali gempa vulkanik dangkal.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Kepala PVMBG telah melaporkan meningkatnya status Gunung Slamet kepada Kepala BNPB.

Ia mengatakan pihaknya merekomendasikan agar masyarakat atau wisatawan tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah Gunung Slamet. "Rekomendasinya, masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendaki dan beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah Gunung Slamet," katanya.

Namun, kata dia, masyarakat diimbau tetap tenang, dan tidak panik. "Tindakan yang perlu dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat adalah penyuluhan, sosialisasi, penilaian bahaya, pengecekan sarana dan pelaksanaan piket terbatas," katanya.

Sebelumnya, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Purbalingga telah menutup sementara jalur pendakian ke puncak Gunung Slamet melalui Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, sejak Senin malam lalu.

Kepala Bidang Pariwisata Dinbudparpora Purbalingga Prayitno mengatakan penutupan jalur pendakian tersebut dilakukan atas saran petugas Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan, Kabupaten Pemalang.

Dari catatan aktivitas Gunung Slamet menyebutkan letusan besar terakhir gunung api ini terjadi pada 1988. Kejadiannya pada 12-13 Juli. Ketika itu terjadi semburan abu vulkanik dan lava dari kawah gunung.

Menurut Surono saat masih menjabat Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), secara karakter apabila terjadi letusan besar Gunung Slamet, bahaya utama yang dapat ditimbulkan adalah luncuran awan panas, lontaran piroklastik seperti bom vulkanik, pasir dan abu, serta aliran lava. "Sebaran jatuhan piroklastik tergantung ketinggian lontaran dan kencangnya angin yang berhembus pada saat terjadi letusan, terutama abu dan pasir," katanya.

Tidak menentu

Surono mengatakan periode letusan Gunung Slamet tidak menentu. Terkadang aktivitas vulkaniknya menggeliat dalam tempo satu tahun, dengan melontarkan letusan, tapi bisa juga dalam jangka waktu hingga 53 tahun baru meletus lagi.

Namun, kata dia, dari aktivitas vulkanik Gunung Slamet yang terjadi pada 21 April 2009, saat itu dapat saja menjadi siklus 20 tahun gunung tersebut yang kembali melontarkan material vulkaniknya.

Selain pada 1988, gunung api aktif tipe A itu juga pernah bergolak pada Juni, Juli, hingga Agustus 1969. Sebelumnya, terjadi letusan abu dan lava pada Juli, Agustus, dan Oktober 1953. Kejadian yang sama, sebelumnya juga terjadi pada 1 Juli dan 12 September 1932.

Berdasarkan sejarahnya, letusan Gunung Slamet tercatat tidak pernah menyebabkan korban jiwa manusia. Gunung ini pertama kali meletus pada 11 hingga 12 Agustus 1772. Saat itu meletus dan menyemburkan abu vulkanik serta lava pijar. Kemudian gunung ini "istirahat".

Slamet meletus lagi pada Oktober 1825. Ketika itu meletus dengan menyemburkan abu vulkanik. Tahun 1835, yaitu pada September, selama dua hari terjadi letusan abu. Kemudian pada 1847 terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. Pada 1 Desember 1849 terjadi letusan abu.

Pada 19 Maret dan 11 April 1860 juga terjadi letusan abu. Selanjutnya 1875 pada bulan Mei, Juni, November dan Desember terjadi letusan abu. Pada 21 hingga 30 Maret 1885 terjadi letusan abu. Kemudian 1890 terjadi letusan abu.

Selanjutnya pada 14 Juli hingga 9 Agustus 1904 terjadi letusan abu dan lava. Pada 1923 bulan Juni terjadi letusan abu dan lava. Kemudian 1926 bulan November selama satu pekan terjadi letusan abu dan lava. Pada 27 Februari 1927 terjadi letusan abu dan lava. Tahun 1928 pada 20 hingga 29 Maret, dan 8 hingga 12 Mei terjadi letusan abu dan lava.

Pada 1929, tanggal 6, 7 dan 15 Juni terjadi letusan abu dan lava. Kemudian pada 2 hingga 13 April 1930 terjadi letusan abu dan lava. Tahun 1932 pada 1 Juli dan 12 September terjadi letusan abu dan lava.

Kemudian pada 1934 hanya terjadi peningkatan aktivitas vulkanik. Pada 1939 yaitu 20 Maret, akhir April, 6 Mei, 15 Juli, dan 4 Desember, terjadi letusan abu. Selanjutnya pada 15 hingga 20 Maret, dan 15 April 1940 terjadi letusan abu.

Pada 1943, tanggal 18 Maret, 1 hingga 10 Oktober terjadi peningkatan kegiatan, ditandai dengan terjadinya hujan abu, serta suara dentuman. Tahun 1944 pada tanggal 5 Januari, 30 Juni, Juli dan 28 hingga 30 Oktober, terjadi peningkatan aktivitas.

Selanjutnya terjadi peningkatan aktivitas vulkanik pada 1948, yaitu pada 14 November. Tahun berikutnya, yakni 1949 juga terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.

Kemudian peningkatan aktivitas vulkanik juga terjadi pada 1951, yakni pada 11 Februari, 26 Juni, 2 Juli, 24 Agustus, Oktober, dan 30 Desember.

Peningkatan aktivitas vulkanik juga terjadi pada kurun waktu dari 1952 hingga 1992, yakni letusan abu dan lava, serta semburan lava di kawah.

Aktivitas Mereda

Ketua Pos Pengamatan Gunung Slamet Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Sudrajat mengatakan aktivitas vulkanik gunung api ini pada Selasa (11/3) pagi sudah mereda.

"Pada Selasa pagi menjelang siang ini, kondisi Gunung Slamet relatif reda, berganti asap putih dibanding pada Senin (10/3) malam yang mengeluarkan asap hitam di puncak gunung," katanya.

Ia mengatakan dalam sepuluh hari terakhir, aktivitas vulkanik Gunung Slamet meningkat signifikan, bahkan kegempaan terjadi ratusan kali.

"Oleh karena itu, meski sejak Selasa pagi puncak Gunung Slamet terpantau relatif tenang, tetapi PVMBG masih memberikan status `waspada`. Suara gemuruh dari puncak gunung yang sebelumnya sempat terdengar oleh warga sekitar, kini sudah tidak terdengar lagi," katanya.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang Tri Wahyuni mengatakan pemkab terus berkoordinasi dengan petugas Pos Pengamat Gunung Slamet di Desa Gambuhan untuk perencanaan kontinjensi antisipasi, sehubungan dengan status waspada gunung tersebut.

"Koordinasi ini sebagai langkah prabencana, karena status Gunung Slamet meningkat menjadi waspada. Kami juga mempersiapkan seluruh tim reaksi cepat, dapur umur, tenda dan logistik serta jalur evakuasi melalui tujuh desa, di antaranya Clekatakan, Gunungsari, Batursari, Siremeng, Gambuhan, serta Pulosari," katanya.

(M008)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026