Logo Header Antaranews Jogja

UKM susu sapi Merapi dambakan izin usaha

Minggu, 29 Juni 2014 21:23 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto Antara)

Sleman (Antara Jogja) - Usaha produksi susu sapi perah di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan adanya bantuan untuk bisa memperoleh izin usaha.

"Sebenarnya usaha susu sapi ini memiliki prospek yang baik, terutama untuk pemulihan ekonomi pascaerupsi 2010," kata bendahara kelompok produsen susu `Sumber Rejeki` Dusun Plosorejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Sukiyem (43), Minggu.

Menurut dia, produksi susu sapi perah menjadi salah satu sektor unggulan masyarakat lereng Merapi, meskipun usaha ini masih berskala rumah tangga, namun respons pasar terhadap produk yang dihasilkan kelompok ini, cukup baik.

"Per hari rata-rata pesanan bisa mencapai 65 hingga 80 liter susu murni. Pemasaran tidak hanya ke rumah warga, tapi juga merambah ke sekolah, kedai susu, dan minimarket. Tapi, kami menghadapi kendala di lapangan, khususnya masalah izin," katanya.

Ia mengatakan selama ini pihaknya telah berupaya mengurus perizinan ke instansi terkait. Namun upaya tersebut terkendala biaya.

"Selain itu, belum adanya rumah produksi juga menjadi salah satu persyaratan mengurus izin. Selama ini proses produksi masih dilakukan di rumah warga dengan proses yang sederhana," katanya.

Sukiyem mengatakan pihaknya berharap ada bantuan dari pemerintah.

"Kalau sudah ada izin, pemasaran bisa lebih luas. Pasar kami sampai sekarang juga masih terbatas wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta saja," katanya.

Meski belum mengantongi izin, kata dia, pihaknya menjamin susu hasil buatan kelompoknya aman dikonsumsi. Sejak mulai berproduksi pada 2013, tidak pernah ada komplain dari konsumen, justru pesanan terus meningkat.

"Usaha ini cukup membantu perekonomian keluarganya. Dari total omset Rp5 juta, anggota bisa mendapat penghasilan Rp200 ribu per bulan. Jumlah anggota kelompok sendiri ada 15 orang, yang semuanya merupakan korban erupsi Merapi," katanya.

Sedangkan produk yang dihasilkan beragam antara lain susu segar, pasteurisasi, dan `yoghurt`.

"Dari beberapa jenis produk itu, yang paling banyak pesanan adalah susu segar dan pasteurisasi. Tiap hari produksi mencapai 30 hingga 40 liter, sedangkan yoghurt rata-rata hanya lima liter," katanya.

Ia mengatakan untuk menarik minat konsumen, susu dibuat dengan aneka rasa, antara lain melon, coklat, stroberi, dan durian.

Harga produk ini juga relatif terjangkau, susu pasteurisasi dijual Rp2.000, dan yoghurt Rp3.500 per gelas ukuran 150 mili liter. Sedangkan susu segar dipasarkan dengan harga Rp6.000 per liter.

(V001)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026