Logo Header Antaranews Jogja

Asosiasi Sentra Bambu Sembada Sleman dikukuhkan

Kamis, 6 November 2014 19:08 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto bamboeindonesia.wordpress.com)

Sleman (Antara Jogja) - Bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Purnomo mengukuhkan Asosiasi Sentra Bambu Sembada yang merupakan wadah pegiat bambu dari hulu hingga hilir, Kamis.

"Komitmen Pemkab Sleman untuk mengembangkan bambu bagi kesejahteraan masyarakat harus ditindaklanjuti dengan meningkatkan produksi bambu dari sisi budi daya hingga produk olahan bambu," kata Sri Purnomo.

Menurut dia, potensi bambu di Kabupaten Sleman masih terbuka lebar. Di lihat dari segi ekonomis, bambu merupakan tanamanyang mudah ditanam, murah dan mudah didapat, serta bisa diolah menjadi berbagai olahan kerajinan yang bernilai ekonomis tinggi.

"Terlebih saat ini hasil hutan berupa kayu semakin berkurang dan harganya mahal. Dari sisi ekologi, bambu juga berperan penting dalam konservasi air dan konservasi lahan di koridor sempadan sungai sebagai kawasan perlindungan," katanya.

Ia mengatakan, melihat potensi bambu yang menguntungkan, Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen menjadikan daerah ini sebagai sentra bambu dengan mengoptimalkan potensi bambu dari hulu ke hilir.

Salah satu langkah yang diambil Pemkab Sleman untuk menjadikan bambu sebagai komoditas unggulan di antaranya dengan menetapkan bambu sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan di kabupaten ini melalui SK Bupati Sleman Nomor 306/Kep.KDH/A/2013.

"Sudah saatnya bambu di wilayah Sleman dikembangkan sebagai budi daya, dengan penanganan yang optimal, sehingga memiliki nilai tambah ekonomi dengan produk yang tinggi, yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan para petani maupun perajin," katanya.

Sri Purnomo mengatakan populasi tanaman bambu di Sleman cukup besar, walaupun dalam areal yang terpecah pecah.

Pada 2013 telah dikembangkan tanaman bambu pada lahan seluas 30 hektare, dan direncanakan akan ditambah 55 hektare pada 2014 dengan dana dari APBN serta APBD Kabupaten Sleman.

"Di sisi lain, di Sleman terdapat 1.759 unit usaha pengelola bambu yang selama ini dalam proses produksinya harus mengambil bahan baku dari luar wilayah Sleman," katanya.

Ia mengatakan berbagai permasalah yang diurai dari kondisi tersebut, ke depan para petani bambu, perajin bambu, ahli perbambuan, pemerhati bambu dan pemerintah harus bersinergi dan berkolaborasi mengembangkan bambu untuk kesejahteraan masyarakat Sleman.

"Diharapkan tidak terjadi lagi, para perajin bambu hanya berpikir keuntungan usahanya semata, tetapi juga mampu berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan petani bambu," katanya.

Keberadaan Asosiasi Bambu Sembada Sleman, kata dia diharapkan mampu mendorong terwujudnya hal tersebut.

"Asosiasi Bambu Sembada Sleman ini diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam mewujudkan komitmen mengembangkan bambu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sleman," katanya.

Pada kesempatan tersebut, bupati Sleman mengajak seluruh anggota assosiasi ini untuk bersama-sama pemkab mewujudkan Sleman sebagai sentra bambu dan produk kerajinan bambu berkualitas.

Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan mesin mengawet bambu yang hanya membutuhkan waktu tujuh menit dalam proses penguatan bambu, serta diserahkan bantuan lima alat pengawet bambu kepada Asosiasi Sentra Bambu Sembada oleh Dirjen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kemenhut RI.

Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Hilman Nugroho mengatakan bahwa dalam budi daya tanaman bambu yang perlu diperhatikan antara lain harus memperhatikan mutu bibit yang baik/berkualitas, kemudian produk yang akan dibuat, dan yang lebih penting adalah pemasaran produk tersebut.

(V001)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026