Logo Header Antaranews Jogja

Hampir 100 persen dusun DIY menikmati listrik

Selasa, 15 Maret 2016 19:55 WIB
Image Print
Perawatan aliran listrik YOGYAKARTA - (dok antara)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, Sumber Daya Mineral Daerah Istimewa Yogyakarta mengklaim sesuai pendataan hingga Desember 2015 hampir 100 persen dari 5.122 dusun di daerah setempat telah menikmati aliran listrik.

"Sesuai pendataan yang kami lakukan sendiri di lapangan memang sudah hampir 100 persen baik untuk desa hingga dusunnya. Sulit mencari rumah tangga di DIY yang belum menikmati listrik," kata Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, Sumber Daya Mineral DIY Edi Indrajaya di Yogyakarta, Selasa.

Meski demikian, menurut Edi, jika mengacu data dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero, rasio elektrifikasi atau tingkat ketersediaan aliran listrik di DIY hingga 2015 baru mencapai 86,27 persen atau di bawah rata-rata nasional yang telah mencapai 87 persen.

Menurut Edi, data rasio elektrifikasi tersebut tidak menggambarkan kondisi riil yang ada di DIY sebab masih menggunakan rumus jumlah rumah tangga berlistrik dibagi rumah tangga total.

Pihaknya sebelumnya telah mengusulkan agar formula penghitungan rasio elektrifikasi dapat diubah menjadi jumlah rumah tangga yang menikmati listrik dibagi jumlah rumah tangga total.

"Tahun lalu kami telah mengusulkan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (Kementerian ESDM) agar mengubah formula penghitungan rasio elektrifikasi itu," kata dia.

Seperti di Kota Yogyakarta, sesuai data yang dikeluarkan PLN dari 128.000 rumah tangga di Kota Yogyakarta, rasio elektrifikasi baru mencapai 68,52 persen, artinya ada sekitar 44.000 rumah tangga yang belum menikmati listrik.

"Ini jelas tidak mungkin karena di Kota Yogyakarta sesuai pendataan langsung di lapangan yang kami lakukan sulit kami menemukan rumah tangga yang belum menikmati listrik. Paling banyak kami temukan 196 rumah tangga yang belum berlangganan listrik, itupun ada yang disebabkan masih ikut orang tuanya," kata dia.

Kendati demikian, Edi mengakui memang masih ada dusun di kawasan pelosok di pegunungan Gunung Kidul dan Kulon Progo yang beberapa rumah tangganya hingga kini belum menikmati listrik.

"Jadi beberapa rumah tangganya saja yang belum menikmati listrik, jangan dihitung satu dusun," kata dia.

Menurut Edi, selain mengandalkan aliran listrik konvensional, untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah terpencil, Pemda DIY hingga kini terus mengembangkan potensi energi baru terbarukan (EBT) seperti biogas, tenaga surya, angin dan mikrohidro.

Dari target 17 persen bauran EBT di DIY pada 2025, hingga 2015 baru tercapai 5 persen.

Ia mengatakan, untuk mendorong perluasan bauran EBT, Pemda DIY antara lain telah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Bantul dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Selain itu, dalam skala lainnya pihaknya juga memasang 10 set panel surya setiap tahun di perkantoran dengan daya 1.000 watt pic (wp) serta pembuatan 600 unit instalasi pemrosesan biomasa menjadi biogas sebagai alternatif pengganti elpiji 3 kg.

"EBT memang sebagian kami khususkan untuk warga di kawasan terpencil yang betul-betul sulit dialiri listrik dan sebagian lainnya kami kembangkan untuk ekonomi produktif," kata dia.

(L007)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026