Logo Header Antaranews Jogja

Bantul belum sikapi wacana kenaikan harga rokok

Senin, 22 Agustus 2016 19:30 WIB
Image Print
Ilustrasi (Foto antaranews.com)

Bantul (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum menyikapi wacana kenaikan harga rokok menjadi sebesar Rp50 ribu per bungkus, termasuk dampak terhadap penerimaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau.

"Kenaikan harga rokok masih wacana sehingga kami belum bisa apa-apa dan menunggu keputusan resmi dari pemerintah pusat," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul, Pulung Haryadi di Bantul, Senin.

Menurut dia, rencana kenaikan harga rokok yang dikabarkan mencapai di atas Rp50 ribu per bungkus itu diakui sudah ramai diperbincangkan berbagai pihak di media sosial, namun pihaknya selaku pemerintah daerah masih menunggu kebijakan dari pusat yang saat ini sedang mengkaji.

Pihaknya tidak berani berandai-andai apakah akan ada kenaikan penerimaan dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) jika wacana itu diterapkan, meskipun setiap tahun instansinya menerima bagi hasil cukai rokok dari pemerintah pusat.

"Kalau saya tidak begitu berharap (penerimaan DBHCHT naik), tetapi apakah boleh memohon ditambah, karena itu kan tergantung dari pusat, apalagi jatahnya sudah ada. Misalnya Bantul sekian, daerah lain sekian, sudah ada prosentasenya," katanya.

Namun demikian, saat ditanya berapa besaran penerimaan DBHCHT untuk Bantul, Pulung mengatakan, tidak dapat merinci besaran dana bagi hasil cukai tersebut, namun dana itu digunakan untuk program pembinaan petani tembakau di Bantul.

"Itu untuk program pembinaan, pelatihan budidaya kepada petani tembakau dalam rangka meningkatkan produktivitas tembakau," kata Pulung yang menjabat Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Bantul ini.

Sementara itu, menurut dia, berdasarkan data di instansinya, luas pertanian tembakau se-Bantul seluas 219 hektare yang tersebar di sebagian Kecamatan Imogiri, Dlingo, Pleret, dan sebagian kecil wilayah Pundong.

"Petani tembakau di Bantul masih tradisional karena lebih banyak untuk lokal. Tidak semua kerja sama dengan pabrik rokok, namun sebagian ke pengepul maupun kerja sama koperasi untuk disetorkan ke pabrik rokok," katanya.
KR-HRI



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026