
Pemkab memberi pelatihan IKM haapi pasar bebas

Kulon Progo (Antara Jogja) - Dinas Perdagangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memberi pelatihan pelaku industri kecil dan menengah untuk meningkatkan kuantitas, kualitas, dan kontinuitas produk menghadapi pasar bebas ASEAN dan pembangunan bandara baru di daerah ini.
Kepala Dinas Perdagangan Kulon Progo Niken Probo Laras di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memberikan pelatihan membuat kerajinan khusus bambu di Kecamatan Temon.
"Produk industri kecil dan menengah (IKM) harus memiliki daya saing agar tidak tersisih dalam pasar bebas ASEAN, termasuk adanya bandara di Kulon Progo," kata Niken.
Ia mengatakan di Kulon Progo sedang tumbuh pelaku IKM baru, khususnya para pemula. Hal ini menjadi perhatian khusus, bagaimana mereka memiliki keterampilan profesional dan produk mereka diterima di pasaran.
"Kami memberikan pelatihan-pelatihan dan pendampingan bagi pelaku IKM pemula atau sudah memiliki jaringan," katanya.
Niken mengatakan ada program dari Kementerian Perindustrian yang ditindaklanjuti Bea Cukai. Selain itu, program Menteri Keuangan yakni Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Ternyata, di Kulon Progo, pada Maret ini, Bea Cukai akan mengumpulkan pelaku IKM, eksportir dan importir untuk sosiliasi program KITE.
"Pada program KITE akan dibebaskan bea pajak, fiskal. Nanti mereka dapat untung tambahan dan meningkatkan daya saing harga di pasaran," katanya.
Untuk meningkatkan kualitas produk, lanjut Niken, Dinas Perdagangan menggalakan program 3K yakni kuantitas, kualitas dan kontinuitas.
Ketika produk memiliki kualitsa bagus, tapi tidak mampu memproduksi banyak dan tidak kontinuitas, maka pesanan akan berhenti. Untuk itu, Dinas Perdagangan memberikan motivasi dan dibimbing secara teknologi.
"Teman-teman Dinas Perdagangan terus dilapangan memberikan sosilisasi dan melakukan pendampingan kepada pelaku IKM," katanya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulon Progo Agus Langgeng Basuki mengatakan produk-produk lokal yang diproduksi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di wilayah ini mulai berkembang, namun produknya belum mampu bersaing dengan produk lain.
"Pemkab berupaya meningkatkan produk lokal supaya mampu bersaing dengan produk luar Kulon Progo, khususnya menghadapi pasar bebas MEA. MEA tidak bisa dihindari, dan pelaku UMKM harus mampu mengubah pola pikir untuk menghasilkan produk berkualitas dan produksinya berkesinambungan," kata Langgeng.
(U.KR-STR)
Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor:
Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026
