Logo Header Antaranews Jogja

Pakar: calon suami istri perlu deteksi diri

Minggu, 7 Mei 2017 21:23 WIB
Image Print
Dosen Fakultas Kedokteran UGM Dicky Moch Rizal menjadi pembicara pada seminar "Married? Siap Gak Siap Harus Siap!" di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. (istimewa)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Calon pasangan suami istri perlu melakukan deteksi diri sebelum menikah untuk mengetahui kesehatan reproduksi masing-masing, kata pakar kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Dicky Moch Rizal.

"Melalui deteksi diri dapat diketahui ada tidaknya masalah atau kelainan terkait dengan kesehatan reproduksi dari masing-masing calon. Kalau ada, dapat dicarikan solusi atau pengobatannya," katanya di Yogyakarta, Sabtu (6/5).

Pada seminar "Married? Siap Gak Siap Harus Siap!" di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Dicky mengatakan masalah kesehatan reproduksi perlu diatasi agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

"Masalah kesehatan reproduksi itu di antaranya keputihan pada wanita dan sperma yang tidak normal pada pria. Jika masalah itu terdeteksi, maka dapat segera dicarikan solusinya," kata dokter Rumah Sakit Dr Sardjito itu.

Psikolog dari UGM Koentjoro mengatakan syarat model keluarga dengan kualitas yang baik antara lain memiliki sifat apresiasi dan afeksi, komunikasi positif, komitmen pada keluarga.

Selain itu juga dapat menikmati waktu bersama keluarga, marasakan kesejahteraan spiritual, dan mempunyai kemampuan mengelola stres dan krisis dengan efektif.

"Untuk mencapai itu semua perlu interaksi antara suami dengan istri dan saling melayani menggunakan prinsip senyum, mendengarkan, memiliki empati, rasa peduli, peka, pandai memuji, memilih kata bijaksana, dan 'action'," katanya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga Waryono menyebutkan dalam sebuah hadis anjuran untuk menikah bagi muda-mudi yang mampu, namun bagi yang belum mampu disarankan untuk puasa.

Mampu itu, menurut dia, banyak parameternya baik jasmani dan rohani, sehat secara biologi dan psikologis. Bagi pemuda yang berpuasa itu bisa mengurangi birahi yang tinggi.

Ia mengatakan motif menikah juga diajarkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW untuk memperhatikan empat faktor yaitu fisik, harta, keturunan, dan agama.

"Namun, kata Rasulullah pilihan yang paling utama adalah kriteria agama, karena untuk mengantarkan menjadi keluarga sakinah mawadah dan warohmah," katanya.

Seminar "Married? Siap Gak Siap Harus Siap!" itu diselenggarakan Klinik Pratama UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan PIKM Lingkar Seroja dan Klinik Pramita.

(B015)




Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026