
BPS ingatkan Kulon Progo pertahankan pertumbuhan ekonomi

Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta mengingatkan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk tetap mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi pascaproyek pembangunan Bandar Udara Internasional Yogyakarta selesai dikerjakan.
Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS DIY Mainil Asni di Kulon Progo, Kamis, mengatakan sejak 2017, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kulon Progo tertinggi di DIY karena adanya pembayaran ganti rugi lahan dan pembangunan Bandar Udara Internasional Yogyakarta (NYIA).
"Biasanya pertumbunan ekonomi di Kulon Progo ini terendah se DIY, tapi mulai 2017 paling tinggi. Pertumbuhan ini karena adanya bandara. Sekarang pemkab harus berpikir bagaimana setelah fisik pembangunan NYIA selesai, tetap memiliki nilai tambah bagi ekonomi masyarakat. Hal ini harus diwaspai untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonominya," katanya.
Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi DIY dibandingkan daerah lain di Indonesia tidak terlalu tinggi. Hal ini dikarenakan DIY tidak memiliki sumber daya alam untuk ditambang. Pertambangan hanya penggalian pasir di Sungai Progo, tidak seperti di daerah lain. Sehingga, pertumbuhan ekonomi tidak mungkin di atas dua digit.
"DIY tidak mungkin kenaikannya dua digit. Karakter ekonomi di DIY sudah tidak lagi primer dan sekunder, tapi sudah pada tataran tersier. Kita sudah mengerah pada inovasi, heritage, dan kreatif. Sehingga sektor pertanian sudah ditinggal, sehingga perlu ada ide sektor pertanian yang kekinian untuk menarik generasi muda," katanya.
Asni mengatakan pertumbuhan sektor pertanian di DIY mulai melambat, bila dibandingkan pertumbuhan sektor industri, dan jasa, serta pariwisata. Industri lokal di DIY berkembang flukatif, karena produk ekspor sangat tergantung pada kondisi ekonomi negara tujuan ekspor, seperti Amerikan, dan Eropa.
"Sebesar 50 persen komoditas ekspor DIY diekspor ke Amerika. Sehingga kita harus hati-hati dengan kondisi saat ini. Saat ini, bagaimana mengalihkan produk ekspor dijual dalam negeri," katanya.
Ia mengatakan sudah saatnya, kabupaten/kota di DIY mengembangkan ekonomi kreatif. Hasil penghitungan PDRB DIY, ekonomi kreatif DIY mencapai 17 persen dari total PDRB. Nilai itu cukup tinggi karena Bali hanya 12 persen dan Jawa Barat sebesar 10 persen.
"Jadi DIY sangat tinggi, artinya ekonomi DIY ditopang oleh ekonomi kreatif. Yang dominan kuliner, dan pariwisata," katanya.
Pewarta : Sutarmi
Editor:
Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
