
Harga minyak meroket

New York (ANTARA) - Harga minyak meroket lebih dari dua persen ke level tertinggi 13-minggu pada akhir perdagangan Kamis pagi WIB karena konsumsi bensin AS terus meningkat meskipun harga di SPBU mencapai rekor.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik 3,01 dolar atau 2,5 persen, menjadi menetap di 123,58 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli bertambah 2,7 dolar AS atau hampir 2,3 persen, menjadi ditutup di 122,11 dolar AS per barel.
Itu adalah penutupan tertinggi untuk Brent dan WTI sejak 8 Maret, yang merupakan penyelesaian tertinggi sejak 2008.
Iran mengatakan pihaknya menghapus dua kamera pengintai Badan Energi Atom Internasional di fasilitas pengayaan uranium ketika dewan pengawas nuklir PBB itu mengeluarkan resolusi yang mengkritik Iran karena gagal menjelaskan sepenuhnya jejak uranium di situs yang tidak diumumkan.
Langkah itu telah meningkatkan ketegangan dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain yang bernegosiasi dengan Iran mengenai program nuklirnya, dan kemungkinan akan membuat sanksi tetap berlaku dan minyak Iran keluar dari pasar global lebih lama.
Para analis mengatakan kesepakatan nuklir dengan Iran dapat menambah sekitar 1 juta barel per hari (bph) minyak mentah ke pasokan dunia.
Persediaan minyak mentah komersial AS naik secara tak terduga minggu lalu, sementara minyak mentah di Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun dengan jumlah rekor karena input penyuling naik ke level tertinggi sejak Januari 2020, kata Badan Informasi Energi AS.
Stok bensin AS turun secara mengejutkan 800.000 barel karena permintaan bahan bakar naik meskipun harga di SPBU melonjak tinggi. Para analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan stok bensin naik 1,1 juta barel.
"Penarikan bensin adalah sorotan dari laporan dengan pasar yang ketat di seluruh AS," kata Tony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging, mencatat permintaan tetap kuat bahkan dengan harga di SPBU di atas 5,0 dolar AS per galon di banyak bagian negara.
Pewarta : Apep Suhendar
Editor:
Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
