Logo Header Antaranews Jogja

Prabowo bantah program gizi bisnis menggiurkan

Kamis, 4 Januari 2024 19:13 WIB
Image Print
Calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto (kanan) menyampaikan visi dan misi disaksikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun (kedua kanan) saat mengunjungi kantor PWI Pusat di Jakarta, Kamis (4/1/2024). Prabowo Subianto menyampaikan visi dan misinya serta program unggulan kepada pengurus PWI Pusat. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom.

Jakarta (ANTARA) - Calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto membantah anggapan program perbaikan gizi yaitu bagi-bagi susu dan makan siang gratis untuk pelajar dan santri serta bantuan gizi untuk ibu hamil sebagai bisnis yang menggiurkan.

Prabowo menyebut program prioritas-nya itu sebagai keharusan (necessity) untuk menghapus stunting dan menciptakan generasi penerus yang bergizi baik dan bangsa yang produktif.

"Ini bukan soal menggiurkan, ini soal kita. Ini soal necessity. Ini soal masa depan bangsa," kata Prabowo saat menjawab pertanyaan pengurus PWI Pusat dalam acara dialog di Kantor Dewan Pers, Jakarta, Kamis.

Dia melanjutkan Indonesia saat ini punya skor yang cukup rendah untuk akademik di tingkat dunia, yang salah satunya diukur dalam peringkat PISA (Programme for International Student Assessment).

"Kalau sekarang periksa angka-angka akademis anak-anak kita yang diukur oleh PISA, mungkin kita sedih. Saya dengar, nanti tolong dicek, dalam 1.000 universitas terbaik di dunia, tidak tahu ada universitas (dari) Indonesia masuk atau tidak," ucap Prabowo.

PISA merupakan program buatan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang merupakan studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan di 81 negara dunia.

Per 3 tahun sejak 2000, pelajar berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak, mengikuti tes membaca, matematika dan sains. Indonesia berpartisipasi dalam studi PISA sejak pertama kali program itu dirintis pada 2000.

Hasil terbaru evaluasi PISA, skor Indonesia dalam tes membaca, matematika, dan sains masih di bawah rata-rata, yaitu 366 untuk matematika dari rata-rata 472, 359 untuk membaca dari rata-rata 476, dan 383 untuk sains dari rata-rata 485.

Berkaca dari hasil itu, Prabowo meyakini kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat meningkat jika ada perbaikan gizi yang dimulai sejak mereka dalam kandungan sampai mereka bersekolah.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Prabowo bantah program gizinya bisnis menggiurkan



Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026