
Jangan lelah dan jangan putus asa mencintai Indonesia

Merawat api harapan
Ada yang lebih berat dari sekadar lelah, yakni putus asa. Lelah bisa diatasi dengan istirahat, tetapi putus asa berarti kehilangan harapan. Di titik inilah orang berhenti percaya bahwa Indonesia bisa berubah dan dapat diperbaiki.
Zygmunt Bauman, seorang sosiolog, menggambarkan dunia modern sebagai "cair", serba cepat, rapuh, dan sulit memberi pegangan. Dalam dunia cair itu, banyak orang merasa percuma mencintai bangsa yang tidak kunjung beres. Mudah sekali kita tergelincir dalam sinisme, merasa semua sia-sia.
Tetapi, di sinilah relevansi gagasan Ernst Bloch dalam The Principle of Hope. Baginya, manusia hanya bisa bertahan dan bergerak maju karena harapan. Harapan bukan sekadar angan-angan kosong, melainkan tenaga sejarah: dorongan batin untuk melampaui keadaan sekarang menuju kemungkinan yang lebih baik.
"Jangan putus asa" berarti menjaga tenaga sejarah itu. Tanpa harapan, cinta Tanah Air berubah menjadi beban. Dengan harapan, cinta menemukan makna sekaligus arah.
Baca juga: Presiden Prabowo menyoroti ekonomi tetap stabil meski diguncang demo berujung ricuh
Baca juga: Menkeu Purbaya yakin ada peluang capai pertumbuhan ekonomi 8 persen
Cinta yang kritis
Ungkapan ini, sekaligus mengingatkan bahwa mencintai Indonesia bukan berarti menutup mata pada keburukan. Justru sebaliknya, cinta sejati adalah cinta yang kritis. Paulo Freire menulis, cinta yang otentik adalah tindakan revolusioner: ia menuntut keberanian untuk melawan penindasan dan ketidakadilan.
Karena itu, mencintai Indonesia berarti berani berkata "tidak" pada praktik korupsi, manipulasi hukum, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ia berarti bersuara ketika demokrasi diselewengkan, bertindak ketika rakyat dipinggirkan, dan menjaga solidaritas ketika masyarakat dipecah-belah oleh kepentingan politik.
Cinta Tanah Air bukan sekadar menyanjung negeri ini dengan kata-kata manis. Ia adalah keberanian untuk merawat yang baik, memperbaiki yang rusak, dan melawan yang busuk.
Baca juga: Ekonom yakin Menkeu dan Menkop baru punya kapabilitas mumpuni
Cinta pada Indonesia tidak selalu hadir di panggung besar. Ia tumbuh dalam ruang-ruang kecil: di kelas sekolah, balai desa, komunitas daring, dan ruang keluarga. Ruang-ruang kecil ini adalah fondasi kebangsaan yang sering luput dari sorotan, namun menjadi penyangga utama ketahanan sosial kita.
"Jangan lelah" berarti jangan berhenti merawat ruang-ruang kecil tersebut. Karena dari sana, lahir generasi yang tahu mencintai Indonesia dan tahu bagaimana menjaganya.
Kita juga perlu mengubah narasi tentang Indonesia dari keluhan menjadi ajakan bertindak, karena di era digital, narasi memiliki kekuatan besar. Media sosial, podcast, film pendek, dan tulisan reflektif bisa menjadi alat untuk menyebarkan semangat cinta yang kritis dan penuh harapan.
Narasi yang sehat tidak menutupi luka, tapi juga tidak tenggelam dalam pesimisme. Ia memberi ruang bagi keberanian, empati, dan cita-cita bersama.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
