Logo Header Antaranews Jogja

Algoritma jadi bentuk baru penjajahan digital

Minggu, 24 Mei 2026 15:46 WIB
Image Print
Wakil Menteri (Wamen) Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menjawab pertanyaan dalam program siniar (podcast) saat mengunjungi Antara Heritage Center (AHC) di Jakarta, Selasa (24/2/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka mengikuti program siniar (podcast) yang membahas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) dan regulasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia menghadapi bentuk baru penjajahan di era digital, yakni dominasi algoritma yang secara perlahan membentuk cara berpikir, perilaku, hingga persepsi publik.

Menurut Nezar, masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial, membuat manusia semakin sulit membedakan fakta, opini, hingga manipulasi informasi.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujarnya melalui keterangan resmi diterima di Jakarta, Minggu.

Wamen Nezar menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.

Ia mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun 2026, bahkan melampaui banyak ancaman geopolitik dunia.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegasnya.

Dalam paparannya, Wamen Nezar juga menyoroti perubahan besar akibat perkembangan artificial intelligence (kecerdasan artifisial) atau AI yang kini bergerak sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika.

Menurutnya, dunia sedang memasuki fase baru persaingan global yang bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam, tetapi penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” katanya.

Wamenkomdigi menjelaskan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global

Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan itu tidak akan berarti tanpa kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi.

Karena itu, ia meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics atau STEM serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” tandasnya.

Wamen Nezar juga mengajak organisasi kepemudaan dan pelajar mengambil peran dalam membangun kemandirian teknologi nasional dan menjaga ruang digital Indonesia tetap sehat, kritis, dan produktif bagi masa depan bangsa.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamenkomdigi: Algoritma jadi bentuk baru penjajahan digital



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026