Yogyakarta (Antara Jogja) - Alat deteksi longsor buatan peneliti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta digunakan industri pertambangan di luar negeri seperti China dan Myanmar.
"Mereka menggunakan alat deteksi longsor itu sebagai alat monitoring dan sistem peringatan dini longsor untuk melindungi para pekerja dan aset perusahaan yang berada di lapangan," kata salah seorang perancang alat tersebut Dwikorita Karnawati di Yogyakarta, Jumat.
Di dalam negeri, menurut dia, salah satu perusahaan yang sudah menggunakan alat deteksi longsor buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu adalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).
Ia mengatakan, selain digunakan industri pertambangan, alat tersebut juga dimanfaatkan masyarakat yang berada di daerah rawan risiko bahaya longsor seperti di Karanganyar dan Kebumen, Jawa Tengah, dan Situbondo, Jawa Timur.
"Alat monitor dan deteksi bencana longsor itu terdiri atas ektensometer, tilmeter, ultrasonik, dan IP kamera. Alat itu memang diperuntukkan mendeteksi bahaya longsor terutama di daerah perbukitan dan pegunungan yang menjadi lokasi sumber panas bumi di Indonesia," katanya.
Menurut dia, letak sumber panas bumi yang berada di kawasan pegunungan umumnya dengan topografi lereng yang cukup terjal, struktur geologi yang kompleks, dan adanya alterasi yang menghasilkan tanah yang cukup tebal.
"Kondisi itu mengakibatkan daerah panas bumi rentan terhadap kejadian tanah longsor," kata Guru Besar Fakultas Teknik UGM yang juga Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM itu.
Ia mengatakan sebelum pemasangan alat di lokasi, tim peneliti UGM telah melakukan pemetaaan potensi bahaya tanah longsor di daerah lokasi panas bumi untuk mengetahui lokasi yang rentan disertai tindakan mitigasi untuk menghidari terjadinya tanah longsor.
"Hal itu dilakukan untuk melindungi pekerja maupun infrastruktur vital perusahaan panas bumi. Dengan demikian, kerugian baik korban jiwa maupun aset perusahaan dapat dihindari," katanya.
(B015)
"Mereka menggunakan alat deteksi longsor itu sebagai alat monitoring dan sistem peringatan dini longsor untuk melindungi para pekerja dan aset perusahaan yang berada di lapangan," kata salah seorang perancang alat tersebut Dwikorita Karnawati di Yogyakarta, Jumat.
Di dalam negeri, menurut dia, salah satu perusahaan yang sudah menggunakan alat deteksi longsor buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu adalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).
Ia mengatakan, selain digunakan industri pertambangan, alat tersebut juga dimanfaatkan masyarakat yang berada di daerah rawan risiko bahaya longsor seperti di Karanganyar dan Kebumen, Jawa Tengah, dan Situbondo, Jawa Timur.
"Alat monitor dan deteksi bencana longsor itu terdiri atas ektensometer, tilmeter, ultrasonik, dan IP kamera. Alat itu memang diperuntukkan mendeteksi bahaya longsor terutama di daerah perbukitan dan pegunungan yang menjadi lokasi sumber panas bumi di Indonesia," katanya.
Menurut dia, letak sumber panas bumi yang berada di kawasan pegunungan umumnya dengan topografi lereng yang cukup terjal, struktur geologi yang kompleks, dan adanya alterasi yang menghasilkan tanah yang cukup tebal.
"Kondisi itu mengakibatkan daerah panas bumi rentan terhadap kejadian tanah longsor," kata Guru Besar Fakultas Teknik UGM yang juga Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM itu.
Ia mengatakan sebelum pemasangan alat di lokasi, tim peneliti UGM telah melakukan pemetaaan potensi bahaya tanah longsor di daerah lokasi panas bumi untuk mengetahui lokasi yang rentan disertai tindakan mitigasi untuk menghidari terjadinya tanah longsor.
"Hal itu dilakukan untuk melindungi pekerja maupun infrastruktur vital perusahaan panas bumi. Dengan demikian, kerugian baik korban jiwa maupun aset perusahaan dapat dihindari," katanya.
(B015)