Kulon Progo (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berusaha menjaga dan meningkatan produktivitas tanaman padi, salah satunya mengendalikan organisme penganggu tanaman, khususnya hama wereng coklat (Nilaparvata lugens).

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertan) Kulon Progo Bambang Tri Budi di Kulon Progo, Minggu, mengatakan, serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) di daerah itu merambah sekitar 11 hektare, tersebar di sebagian kecamatan di antaranya di Kecamatan Temon, Panjatan, Wates, Nanggulan dan Kalibawang.

"Serangan OPT terbagi dalam titik-titik tertentu, sesuai dengan arahan pemerintah bagaimana menekan titik ini agar tidak meluas, dan kami berharap ada slogan spot stop," kata dia.

Bambang Tri mengungkapkan terkait dengan pembangunan pertanian di Kulon Progo khususnya padi, telah diatur melalui peraturan bupati (Perbub) tentang Pola dan Tata Tanam. Yakni golongan satu atau musim tanam pertama (MT I)�dimulai bulan Agustus, sementara MT II pada November.

"Upaya menekan penurunan produksi atau meningkatkan produksi padi dengan pengendalian OPT. Adapun OPT yang paling dominan�di Kulon Progo�yaitu tikus, disusul wereng�coklat dan wereng punggung putih, ada pula sebagian yang terserang hama penggerek batang," katanya.

Dalam pengendalian OPT, kata Bambang, pemerintah bersama masyarakat serentak bersama melakukan pengendalian hayati.

"Kami bersyukur muncul kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan atau pengendalian mulai persemaian. Yaitu pada tanaman yang berusia�dua minggu hingga 35�hari," katanya.

Bambang mengatakan, khusus untuk hama wereng coklat, ternyata bisa berkembang dan menyerang sejak persemaian tidak hanya dalam masa pertanaman.

"Pengendalian memang dimulai saat pertanaman saat dahulu, tapi sekarang dimulai sejak dilakukan persemaian, dan kesadaran petani untuk melakukan pencegahan sejak persemaian sudah ada di Kulon Progo," katanya.

Menurut Bambang, dalam pengendalian OPT, Pemkab Kulon Progo sudah menerapkan pola tanam Padi - Padi - Palawija. Pola tanam tersebut dinilai cukup efektif menekan serangan hama perusak tanaman. Sehingga jika terjadi serangan OPT masih bisa dikatakan dalam batas toleransi.

"Kami berharap semoga imunitas OPT tidak tambah kebal dengan perlakuan yang kita terapkan di lapangan. Dengan pengendalian OPT ini, diharapkan produktivitas padi di Kulon Progo bisa �terjaga, bahkan bisa lebih ditingkatkan," katanya.

(KR-STR)

Pewarta : Oleh Sutarmi
Editor : Masduki Attamami
Copyright © ANTARA 2024