Bantul (Antara Jogja) - Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, merekomendasikan bangunan Sekolah Dasar Seropan II di Desa Munthuk tidak dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar siswa karena kondisi yang membahayakan.

"Berdasarkan hasil musyawarah dan peninjauan lapangan dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di SD Seropan II, rekomendasinya agar sekolah itu tidak dimanfaatkan," kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Didik Warsito di Bantul, Selasa.

Menurut dia, SD Seropan tidak direkomendasikan untuk kegiatan belajar mengajar siswa dan guru setempat karena sebagian bangunan sekolah mengalami kerusakan akibat fenomena pergeseran tanah di bawah bangunan itu karena dampak hujan beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, hasil peninjauan di SD Seropan II, memang kondisi fisik bangunan atau ruangan kelas masih layak pakai, akan tetapi karena kekhawatiran pergerakan tanah semakin meluas, maka untuk sementara agar kelas tidak dimanfaatkan.

"SD Seropan II itu malah justru lebih berbahaya kalau dimanfaatkan karena ada yang rusak akibat pegeseran tanah itu di perpustakaannya kalau kelasnya masih bisa, cuma di depan kelas itu halaman sudah retak dan retaknya berjalan menurun dari waktu ke waktu," katanya.

Didik melanjutkan, kemudian yang di belakang sekolah tersebut juga terjadi rekahan tanah, sehingga alternatifnya berdasarkan musyawarah pihak terkait tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan bahkan telah dipasangi garis polisi.

"Ketika kami ke sana justru sudah ada garis polisi malahan, nah karena tidak bisa dimanfaatkan, kegiatan belajar mengajarnya harus kami ubah, dan untuk sementara ini mereka para siswa kegiatan belajar mengajar di tenda," katanya.

Ia mengatakan, tenda darurat untuk kegiatan belajar siswa didirikan di SD Seropan III atau SD yang dulu siswanya digabung di SD Seropan II yang mengalami kerusakan itu, kemudian memanfaatkan ruangan yang masih tersedia.

"Kebetulan ada tiga kelas yang bisa dimanfaatkan di sisi barat sekolah karena ada ruangan yang sudah dimanfaatkan untuk PAUD, sementara yang tiga kelas lagi ditempatkan di tenda, tenda ini karena sambil nunggu shelter yang segera dibangun," katanya.

Menurut dia, tenda-tenda darurat untuk kegiatan belajar siswa itu didirikan karena kegitan belajar siswa sudah mulai dilaksanakan, sementara membangun shelter untuk tiga kelas butuh proses dan waktu yang tidak sebentar.

"Membangun shelter untuk tiga kelas perlu waktu sedangkan kegiatan belajar mengajar harus jalan terus, sementara kita pasang tenda dulu sekaligus bangun shelter, kemarin kesepakatannya seperti itu," katanya.

(T.KR-HRI)

Pewarta : Heri Sidik
Editor : Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2024