Kulon Progo (Antaranews Jogja) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau pembudidaya ikan di lima kecamatan terdampak ditutupnya saluran irigasi Kalibawang menggunakan air dari sumur dalam guna mencukupi kebutuhan air kolam ikan.
     
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sudarna di Kulon Progo, Selasa, mengakui dampak dimatikannya saluran irigasi Kalibawang menyebabkan pembudidaya ikan di Kecamatan Kalibawang, Nanggulan, Girimulyo, Sentolo, dan Pengasih melakukan panen paksa karena kekurangan pasokan air.
     
Di enam kecamatan itu, pembudi daya ikan tidak bisa menenar benih. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki alternatif pasokan air. Penutupan saluran irigasi Kalibawang ini sudah sering terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Saat ini, ada ratusan pompa air yang telah dibantukan kepada pembudi daya ikan.
     
"Untuk itu, kami memiliki program bantuan pompa air kepada pembudi daya ikan. Sehingga, yang bersangkutan dapat menggunakan air dari sumur dalam. Artinya, dampak penutupan saluran irigas Kalibawang tidak signigikan," kata Sudarna.
     
Ia optimistis penutupan saluran irigas Kalibawang tidak berdampak pada target tahunan budi daya ikan di wilayah itu. Hal ini dikarenakan DKP sudah memperkiran sebelum-sebelumnya, bahwa setiap Mei-Agustus, saluran irigasi Kalibawang ditutup karena dilakukan perawatan atau perbaikan.
     
Produksi pada Mei dan Juni justru naik. Hal ini karena ikan yang seharusnya panen pada bulan-bulan berikutnya dipanen lebih awal. Penurun produksi terjadi sekitar Oktober, karena yang seharusnya ditebar tiga bulan sebelumya, dipanen pada Oktober.
     
"Dampaknya ada, tapi tidak terlalu besar," katanya.
     
Sudarna mengatakan panen paksa ikan di kawasan terdampak ditutupnya saluran irigasi Kalibawang diuntungkan dengan tingginya permintaan pasar dan harga ikan sangat tinggi. Saat ini, banyak pihak yang bertanya kepada DKP, kelompok yang siap panen.

"Jadi, pembudi daya ikan diuntungkan dengan tingginya permintaan pasar," katanya.
     
Kepala Bidang Pembudidayaan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Leo Handoko menatakan jaringan irigasi Kalibawang sangat vital bagi budi daya perikanan, khususnya ikan bersisik seperti nila dan gurami yang membutuhkan air secara berkala. Untuk itu, DKP melarang pembudi daya sementara waktu tidak membudidayakan jenis ikan tersebut.
   
 "Kami minta mereka budi daya lele kalau dimungkinkan. Tapi kalau tidak ada air, untuk sementara waktu kolam dikosongkan," katanya.
     
Leo mengatakan kelompok budi daya ikan (pokdakan) sudah melaporkan panen dini ikan gurami dan nila. Hal ini mengganggu target produksi ikan pada 2018.
     
"Kemungkinan produksi ikan sendikit menurun, tapi tidak masalah. Yang terpenting, pembudi daya tidak merugi akibat dimatikannya jaringan irigasi Kalibawang," katanya.