Yogyakarta (ANTARA) - Komunitas tosan aji di Yogyakarta yang tergabung dalam Sentra Tosan Aji Yogyakarta berharap generasi muda tidak melupakan keris sebagai warisan budaya leluhur termasuk tetap menjaga regenerasi pembuat keris yang semakin langka.

“Jika tidak dijaga, maka warisan tradisi dan budaya ini akan dilupakan dan bisa hilang. Padahal, keris ini sudah diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO sejak 2006,” kata Ketua Sentra Tosan Aji Yogyakarta Fajar Utama di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, masih banyak masyarakat dan generasi muda yang tidak memahami tosan aji khususnya keris dan nilai budaya yang ada di baliknya.

Oleh karenanya, seringkali ada warga yang memilih membuang atau melarung keris karena menganggap memiliki tosan aji tersebut dekat dengan perilaku syirik yang dilarang agama.



Padahal, lanjut dia, keris adalah senjata tradisional yang dibuat sejak zaman dulu untuk mempersenjatai diri. “Sama seperti nabi yang memiliki pedang. Masyarakat di Jawa memiliki keris. Jadi, keris ini adalah ‘alutsista’,” katanya.

Guna menepis anggapan tersebut, Fajar rutin menggelar pameran keris agar lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk mempelajari dan memahami keris serta nilai-nilai estetika yang dimiliki.

“Sebuah keris dibuat dengan pakem-pakem tertentu yang memperhatikan estetika. Nilai-nilai budaya ini yang menjadi kelebihan keris sehingga menjadi warisan budaya yang harus dilestarikan,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, mulai banyak ustad yang menjadi pecinta tosan aji. “Harapannya, bisa membuka pandangan masyarakat bahwa memiliki keris bukan syirik,” katanya.

Sedangkan untuk perajin keris di Yogyakarta atau DIY, bisa dihitung dengan jari. Salah satunya berada di Gatak Kabupaten Sleman serta di Wonosari Kabupaten Gunungkidul.

Dalam waktu dekat, 6-9 Oktober, Sentra Tosan Aji Yogyakarta bersama Pemerintah Kota Yogyakarta akan menggelar pameran keris di XT-Square.

Selain pameran, juga akan dibuka meja edukasi bagi warga yang memiliki keris untuk berkonsultasi mengenai keris yang dimiliki serta pembersihan keris secara gratis agar kondisinya terjaga dan terawat dengan baik sehingga tidak rusak atau berkarat ketika disimpan lama.

“Kami juga akan membuka bursa untuk penjualan keris. Baru dibuka sudah ada 35 orang yang mendaftar. Akan kami batasi hingga 50 peserta saja,” kata Penasihat Sentra Tosan Aji Yogyakarta Eko Haryanto.

Dalam pameran itu akan dipamerkan sekitar 30 keris, beberapa di antaranya tergolong keris langka dan sulit dijumpai, salah satunya keris HB VII yang dibuat terbatas 12 buah serta keris yang sudah berusia 800 tahun dibuat di masa Kerajaan Singosaren.

Selain keris, juga akan dipamerkan jenis tosan aji lainnya seperti tombak, panah, dan pedang.

Pewarta : Eka Arifa Rusqiyati
Editor : Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2024