Bantul (ANTARA) - Perajin alat musik Kendang di pedukuhan Ndaleman, Kelurahan Gilangharjo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mempertahankan warisan turun temurun dalam memproduksi alat musik tradisional dari Jawa tersebut.

"Kerajinan kendang yang ada di Ndaleman Gilangharjo ini sudah menjadi warisan turun temurun dari kakek atau mbahnya Pak Joko yang saat ini aktif produksi," kata Lurah atau Kepala Desa Gilangharjo Pardiyono saat berkunjung ke rumah produksi kendang itu di Bantul, Jumat.

Menurut dia, usaha memproduksi kendang di wilayah Pedukuhan Ndaleman sudah ada sejak 1950an, yang awalnya dilakoni kakek Joko, kemudian diteruskan Pak Adi, selaku orang tua Joko, dan kemudian sejak empat tahun lalu ditekuni Joko.

"Walaupun sekarang sebetulnya Pak Adi masih bisa produksi, tapi setelah ada regenerasi ini lebih bagus generasi sekarang ini membuatnya, bapaknya sudah tua kekuatannya berbeda, mas Joko ini produksi bagus dan Alhamdulillah perkembangan lancar," katanya.

Dia mengatakan, pesanan dari berbagai pihak dan instansi pemerintah berdatangan sejak tahun lalu, setelah sebelum sebelumnya sempat surut, hal itu setelah ada perkembangan campur sari dan adanya bantuan alat musik tradisional kepada kelompok seni dari pemerintah.

"Setahu saya yang memproduksi kendang cuma di Ndaleman sini, kalau gamelannya ada di tempat lain, namun nanti tidak lama lagi akan kami kembangkan, tapi kalau kendang cuma sini," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam upaya mendorong potensi desanya selain mengangkat potensi kerajinan kendang, juga potensi lokal yang sudah menjadi budaya dan khas daerah ini akan digarap.

"Setelah kami memetakan potensi potensi akan kami kembangkan empat budaya selain kuliner, yaitu gamelan, keris, batik dan wayang. Dan kendang ini kan termasuk perangkat gamelan. Memang empat budaya itu yang kita kembangkan arahnya untuk peningkatan ekonomi," katanya.

Sementara itu, perajin kendang di Ndaleman Gilangharjo, Joko Kendang mengatakan kendang yang diproduksinya berbahan kayu nangka, munggur, mahoni, mangga dan juga kelapa. Namun kayu yang berkualitas dan cocok untuk kendang adalah kayu nangka.

"Kalau untuk tutup kendang dari kulit kita produksi sendiri, bahan ambil dari luar. Kendang yang saya buat ukurannya beragam dengan harga kisaran paling murah Rp800 ribu, dengan paling mahal Rp4 juta," katanya.

Dia mengatakan, dengan dibantu tiga orang warga setempat , dalam sehari rata-rata bisa memproduksi kendang dua unit atau sekitar 60 kendang setiap bulan. Pemesan paling banyak akhir akhir disebutnya dari instansi di lingkungan Pemda DIY.
 

Pewarta : Hery Sidik
Editor : Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2024