Yogyakarta (ANTARA) - Shell Indonesia menggelar forum eksekutif bertajuk Sustainable Success: Balancing Growth and Agility pada akhir Juni 2025 di Jakarta, dengan menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pemimpin industri untuk membahas strategi menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, adaptif, dan tangguh di tengah tantangan global.
Hadir sebagai pembicara antara lain Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan RI dan pembawa acara podcast Endgame; Phillia Wibowo, Partner & Leader of People & Organizational Performance Practice Southeast Asia, McKinsey & Company; serta Andri Pratiwa, Managing Director Lubricants Shell Indonesia. Forum dipandu oleh Pemimpin Redaksi Fortune Indonesia, Hendra Soeprajitno.
Diskusi berfokus pada peta jalan menuju Indonesia Emas 2045 sebuah visi strategis menjadikan Indonesia sebagai negara berpendapatan tinggi melalui peningkatan produktivitas nasional.
Untuk mencapai hal itu, para pemimpin sepakat bahwa transformasi struktural menjadi kebutuhan mutlak, dimulai dari pertumbuhan jumlah perusahaan produktif berskala menengah dan besar, peningkatan kualitas SDM, hingga akselerasi investasi di bidang infrastruktur dan teknologi.
Phillia Wibowo menekankan pentingnya menciptakan nilai tambah secara menyeluruh. Menurutnya mewujudkan Indonesia sebagai negara maju menuntut lebih dari sekadar pertumbuhan ekonomi, namun diperlukan transformasi menyeluruh yang mencakup penguatan struktur bisnis nasional, perluasan perusahaan yang produktif, serta peningkatan nilai tambah per tenaga kerja.
"Semua ini hanya dapat tercapai apabila kita secara bersamaan membangun lima bentuk modal, yaitu finansial, manusia, institusional, infrastruktur, dan semangat kewirausahaan,” ujar Phillia.
Sementara itu, Gita Wirjawan menyoroti pentingnya keterbukaan terhadap ide dan inovasi lintas sektor sebagai kunci menciptakan ketahanan di tengah ketidakpastian global.
“Inovasi memerlukan keterbukaan baik terhadap teknologi, gagasan lintas sektor, maupun perspektif global. Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, bangsa yang mampu membangun resiliensi melalui tata kelola yang adaptif dan investasi pada kualitas sumber daya manusia akan lebih siap menangkap peluang di tengah krisis,” ujarnya.
Di sisi industri, Andri Pratiwa, Managing Director Lubricants, Shell Indonesia menyoroti peran Shell Indonesia dalam mendukung upaya menciptakan ekosistem bisnis yang berdaya tahan dan kolaboratif.
Shell Indonesia, katanya, percaya bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai melalui pendekatan yang relevan, kemitraan strategis, serta kesiapan menghadapi dinamika perubahan.
“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi pelanggan dan mitra industri melalui solusi yang meningkatkan kelincahan sekaligus kinerja bisnis di berbagai kondisi pasar.”
Sebagai bentuk nyata dari komitmen tersebut, Shell Indonesia tengah membangun Pabrik Manufaktur Gemuk (grease) di Marunda, Bekasi. Sebelumnya, perusahaan ini juga telah meningkatkan kapasitas produksi pabrik pelumasnya menjadi 300 juta liter per tahun. Kedua langkah ini diyakini dapat memperkuat rantai pasok domestik serta menunjang produktivitas sektor industri strategis nasional.