Jogja Husada Sehat dorong jamu jadi ikon pariwisata Yogyakarta

id jamu, yogyakarta, festival jamu, jamu jogja untuk dunia

Jogja Husada Sehat dorong jamu jadi ikon pariwisata Yogyakarta

Nina (49) meracik jamu tradisional beras kencur pesanan pembeli pada Festival Nitilaku Jamu 2026 di Balai Gading Sagan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (11/2/2026). ANTARA/Sayyida Nafisa

Yogyakarta (ANTARA) - Jogja Husada Sehat mengampanyekan budaya minum jamu melalui Festival Nitilaku untuk mendorong ramuan tradisional tersebut menjadi ikon baru pariwisata di Yogyakarta.

Dewan Penasehat Jogja Husada Sehat Tazbir Abdullah, di Yogyakarta, Rabu, mengatakan jamu seharusnya menjadi identitas utama dalam menyambut wisatawan sekaligus untuk menggerakkan ekonomi daerah secara organik.

"Kenapa orang dari luar datang ke Jogja yang disajikan teh atau kopi? Kenapa tidak mulai dengan jamu? Jamu itu warisan kita, semua komponennya dari lokal dan bisa menggerakkan ekonomi daerah," katanya.

Menurutnya jamu memiliki potensi besar untuk mendunia layaknya ginseng dari Korea Selatan asalkan didukung dengan standar kemasan dan promosi yang lebih modern.

Tazbir juga menekankan pentingnya menjadikan jamu sebagai gaya hidup sehat bagi generasi muda guna menekan risiko penyakit akibat konsumsi minuman manis yang berlebihan.

"Mari kita kampanyekan minum jamu untuk kesehatan. Anak-anak sekarang bisa minum dua sampai tiga gelas teh manis sehari. Itu bisa menjadi sumber penyakit beberapa tahun ke depan," katanya.

Owner Selira Jamu, Ocha (27), menilai kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi dan membuka peluang kolaborasi antar pelaku usaha jamu.

“Acaranya bagus, jadi bisa kumpul dan saling sharing, membuka peluang baru dan tukar pikiran,” ujarnya.

Pengunjung Riris (47) juga mengapresiasi kegiatan tersebut karena tidak hanya menghadirkan produk jamu, tetapi juga edukasi melalui sesi diskusi.

“Acaranya bagus dan interaksinya oke, selain itu bisa dapat ilmu juga,” katanya.

Sementara itu, Ketua Jogja Husada Sehat Niena Rahayu Purnomo menjelaskan bahwa melalui semangat "Nitilaku", pihaknya berupaya mengubah persepsi masyarakat agar jamu tidak lagi dianggap sebagai minuman yang pahit.

Niena menyebut inovasi rasa yang ramah di lidah generasi Z kini menjadi fokus utama agar jamu dapat diterima secara luas sebagai bagian dari keseharian masyarakat.

Filosofi jamu gendong pun diangkat kembali sebagai simbol kasih sayang dan kepedulian terhadap kesehatan dalam upaya memperkuat nilai sosiologis ramuan tersebut.

Kegiatan ini melibatkan 20 pelaku UMKM yang memamerkan beragam produk inovatif sebagai langkah awal program pembinaan pelaku usaha jamu secara berkelanjutan.

Melalui slogan "Jamu Jogja untuk dunia", organisasi ini berharap ekosistem jamu di Yogyakarta dapat terus berkembang hingga diakui di tingkat internasional.

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.