Jakarta (ANTARA) - Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela merupakan salah satu bentuk kolonialisme baru yang menunjukkan kesewenang-wenangan AS untuk menguasai negara tersebut.
"Saya melihat apa yang terjadi di Venezuela is a very simple plain form of new colonialism, jadi ini kolonialisme baru. Kita untuk membaca apa yang terjadi di Venezuela itu, tidak hanya dari proses masuknya angkatan bersenjata Amerika Serikat untuk menculik Presiden Venezuela, tetapi juga banyak sekali rangkaian pernyataan, terutama dari Pete Hegseth, United States Secretary of War, dia kan sudah siap-siap mau perang aja di Amerika ini," kata Pakar CSIS yang juga Mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma di Jakarta, Jumat.
Rizal dalam Forum Kramat di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat juga memperhatikan wawancara Presiden AS Donald Trump dengan New York Times, yang secara rinci, detail, tanpa ada yang ditutupi merupakan isyarat akan adanya kolonialisme baru di awal tahun 2026 ini.
"Wawancara itu sangat rinci menjelaskan mengenai apa yang kira-kira akan kita hadapi, yang menjadi kolonialisme baru di awal tahun 2026 ini, dan tentunya akan mendominasi politik internasional di tahun-tahun mendatang. Jadi, bagaimana Amerika menerapkan adagium lama di dalam studi hubungan internasional yang sudah 3.000 tahun, bahwa negara kuat bisa melakukan apa saja yang mereka bisa, sementara negara-negara yang lemah harus menderita," katanya.
Menurut dia, Indonesia harus waspada akan kekuatan AS yang begitu besar dengan memperkuat ketahanan politik luar negeri dan menunjukkan tanah air sebagai negara yang memiliki kedaulatan sendiri.
Ia juga menyoroti Amerika Serikat yang membuat hegemoni dunia berdasarkan Group of Two (G2) atau pembagian kekuasaan antara Amerika Serikat dan China.
"G2 itu harus diserahkan kepada Amerika Serikat yang menjalankannya. Kebetulan yang timur kemungkinan dia (Donald Trump) ingin diserahkan kepada China, ini menurut saya berbahaya sekali. Dunia yang berdasarkan kepada G2 arrangement yang hanya diatur oleh dua negara. Jadi konsep kebutuhan-kebutuhan besar yang mengatur kamu atur negara A, B, dan C, dan kamu mengatur negara D, E, F, ini adalah bentuk kolonialisme dan liberalisme yang harus kita tolak," tuturnya.