Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) resmi memperkuat kurikulum pembekalan bagi calon pekerja migran Indonesia (PMI) dengan fokus pada penguatan wawasan kebangsaan guna memperkuat upaya soft diplomacy.
Langkah ini disahkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Menteri P2MI Mukhtarudin dan Gubernur Lemhannas RI TB Ace Hasan Syadzily di Jakarta, Selasa.
Mukhtarudin menjelaskan konsep soft diplomacy, yang dijalankan Indonesia dengan mengirimkan tenaga kerja yang memiliki wawasan kebangsaan kuat, menunjukkan kepada dunia bahwa pekerja migran adalah individu yang disiplin, berintegritas, dan membawa nilai-nilai luhur bangsa.
“Kita ingin pekerja migran kita menjadi duta bangsa yang sesungguhnya. Saat mereka berada di luar negeri, mereka membawa bendera Merah Putih di dadanya. Wawasan kebangsaan ini yang akan menjadi perisai agar mereka tidak mudah terpapar paham-paham radikal atau pengaruh asing yang merugikan,” ujar Mukhtarudin dalam keterangannya.
Pembekalan wawasan kebangsaan ini dinilai penting diberikan kepada para calon PMI sebelum bertolak ke negara penempatan, mengingat durasi kerja di luar negeri yang cukup lama membuat mereka rentan terhadap pengaruh nilai-nilai baru dan ideologi asing.
Mukhtarudin juga menyoroti dinamika sosial yang akan dihadapi PMI selama bekerja dua hingga tiga tahun di luar negeri. Ia menjelaskan bahwa lingkungan kerja internasional membawa risiko masuknya pemahaman yang bisa mengikis rasa cinta tanah air.
"Mereka bekerja di luar negeri dua sampai tiga tahun, bahkan lebih. Setiap hari mereka bertemu dengan pemahaman dan nilai-nilai baru di sana. Ideologi macam-macam ada di sana. Jadi, sangat perlu penguatan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air bagi calon pekerja migran kita,” katanya.
Melalui kerja sama dengan Lemhannas, Kementerian P2MI ingin memastikan bahwa pekerja migran memiliki filter mental yang kuat. Wawasan kebangsaan diharapkan menjadi jangkar agar para pekerja tetap memegang teguh jati diri Indonesia meskipun berada di tengah keberagaman budaya dan ideologi global.
Kerja sama ini akan mengintegrasikan materi dari Lemhannas ke dalam sistem Orientasi Pra-Pemberangkatan (OPP) para calon PMI.
Mengingat waktu orientasi yang sangat terbatas satu hingga lima hari, Kementerian P2MI bersama Lemhannas akan mengemas materi wawasan kebangsaan secara ringkas namun mendalam melalui format digital dan buku saku.
Sebagai langkah keberlanjutan, pemerintah juga tengah menyiapkan dukungan jarak jauh berupa materi wawasan kebangsaan dalam format digital yang dapat diakses secara berkala, berfungsi sebagai pengingat identitas nasional yang kokoh selama mereka berjuang di tanah rantau.
Langkah ini mempertegas visi Kementerian P2MI untuk mencetak pekerja migran yang tidak hanya ahli secara profesional (skilled workers), tetapi juga memiliki integritas kebangsaan yang tidak tergoyahkan.
"Para pekerja migran kita dapat memiliki pegangan nilai yang kuat. Ini adalah bagian dari upaya kita menyiapkan skilled workers yang berkarakter,” kata Mukhtarudin.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemerintah bekali calon PMI dengan wawasan kebangsaan