Logo Header Antaranews Jogja

Program Tabunganku capai 2,5 juta rekening

Rabu, 23 Mei 2012 15:45 WIB
Image Print
ilustrasi tabungan Bank Indonesia (( antaranews.com))

Jakarta (ANTARA Jogja) - Program Bank Indonesia untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap perbankan melalui program Tabunganku sejak dicanangkan pada awal 2010, saat ini telah tercatat 2,5 juta pembukaan rekening dengan nilai saldo sebesar Rp2,6 triliun.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad di Jakarta, Rabu mengatakan kampanye nasional Tabunganku telah menyediakan produk tabungan tanpa biaya administrasi serta batasan jumlah setoran yang sangat rendah.

"Saya masih mengharapkan terobosan atau inovasi produk yang lebih variatif sehingga mampu menjangkau lebih banyak nasabah," katanya.

Dijelaskan Muliaman, Tabunganku merupakan program iklusi keuangan yang diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan perbankan sehingga bisa mendorong tingkat kesejahteraan masyarakat.

Hasil survey yang dilakukan World Bank memperlihatkan bahwa hanya sekitar 17 persen dari penduduk Indonesia yang memperoleh pinjaman dari bank, atau sekitar 20 persen yang menggunakan akses dari lembaga pembiayaan formal, dengan 40 persen penduduk menggunakan jasa keuangan informal.

Dengan demikian, dari sisi akses terhadap kredit ada sekitar 40 persen yang termasuk dalam kelompok financially excluded. Hambatan utama dari terbatasnya akses atas kredit dari lembaga pembiayaan formal adalah ketiadaan atau ketidaklengkapan dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan pinjaman, sementara ketiadaan agunan hanya menjadi hambatan kedua.

Dari sisi savings, ada sekitar 47 persen yang menyimpan uangnya di bank, sebagian besar dalam bentuk tabungan. Namun demikian, persentase penduduk yang tidak memiliki simpanan di lembaga keuangan --baik formal maupun informal-- masih cukup besar, yakni 32 persen dengan ketidakcukupan income dan ketiadaan pekerjaan menjadi dua alasan utama.

Menurut Muliaman, program inklusi keuangan selayaknya memang diawali dengan program menabung, karena dengan menabung mereka akan terhindari dari kebiasaan boros dan mengubahnya menjadi ke arah akumulasi kekayaan.

"Inilah cikal bakal pembentukan karakter financial planning yang baik. Dengan kata lain, debitur yang baik adalah berasal dari kreditur yang baik," katanya.

Dari kondisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa peran perbankan masih terbuka luas untuk meningkat akses pelayanannya terutama melalui perluasan basis nasabah sesuai fokus program Financial Inclusion.

Dikatakannya, program Financial Inclusion ini bukanlah suatu kegiatan amal dan diharapkan dapat berlangsung secara sustainable dalam jangka panjang, sehingga harus ada business rationale yang mendasarinya.
(D012)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026