Logo Header Antaranews Jogja

Mahasiswa UNY olah daun bambu jadi kerupuk

Kamis, 24 Mei 2012 15:25 WIB
Image Print
Universitas Negeri Yogyakarta

Jogja (ANTARA Jogja) - Tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta memanfaatkan dan mengolah daun bambu yang mempunyai banyak khasiat untuk kesehatan menjadi kerupuk yang diberi nama Kedapring.

"Pengolahan menjadi camilan berupa kerupuk merupakan inovasi bahan pangan dan salah satu alternatif bentuk pengoptimalan pemanfaatan daun bambu yang termasuk herbal potensial," kata salah seorang mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Ayu Siti Rochmah di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, daun bambu mengandung banyak zat aktif, yakni flavonoid, polisakarida, klorofil, asam amino, vitamin, dan mikroelemen, sehingga baik untuk menurunkan lemak darah dan kolesterol.

"Daun bambu juga bisa menurunkan oksidasi antioksidan atau radikal bebas, sebagai bahan antipenuaan, serta mampu menjaga stamina dan mencegah penyakit kardiovaskular," katanya.

Ia mengatakan, Indonesia adalah negara tropis yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuh-tumbuhan, terutama bambu. Namun, pemanfaatan pohon bambu hanya terbatas pada batangnya, sedangkan daun bambu hanya dibiarkan menjadi limbah.

"Padahal, di China daun bambu dimanfaatkan sebagai ramuan obat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti meredakan batuk, sesak napas, bahkan mampu mengobati maupun mencegah penyakit jantung, kanker, dan asam urat," katanya.

Menurut dia, pengolahan kerupuk daun bambu itu disebabkan banyak daun bambu terbuang percuma karena pemanfaatan yang belum optimal. Produk itu memiliki prospek bisnis yang tinggi karena selama ini belum ada olahan kerupuk daun bambu.

"Kami melihat tumbuhan bambu yang melimpah di Indonesia dan daun bambu yang jarang sekali dimanfaatkan serta minat seseorang terhadap makanan gorengan, menjadikan kami mencoba untuk mengolah daun bambu sebagai camilan sehat agar mudah dikonsumsi, kemudian timbul ide untuk mengolah daun bambu menjadi kerupuk," katanya.

Ia mengatakan, cara pembuatan kerupuk daun bambu dimulai menyiapkan bahan yang dibutuhkan, yakni tepung tapioka 500 gram, tepung terigu 100 gram, garam 25 gram, gula pasir 35 gram, bawang putih 35 gram, kapur sirih satu sendok makan, dan 350 mililiter air.

"Daun yang dibuat untuk kerupuk sebaiknya yang masih muda berwarna hijau. Sebelum mengolah daun bambu, bulu daun bambu harus dibersihkan dengan merebusnya dalam air mendidih kemudian daun tersebut dihaluskan menggunakan blender dengan sedikit campuran air," katanya.

Menurut dia, tepung tapioka, tepung terigu, bawang putih yang sudah dihaluskan dicampur garam dan gula kemudian diaduk dengan cairan daun bambu yang sudah diblender dan ditambahkan air secukupnya.

"Adonan harus diaduk hingga menjadi kalis dan tidak lengket di tangan serta dicetak secara merata pada `besek` kemudian dikukus dalam dandang sampai benar-benar matang hingga warna adonan menjadi hijau bening," katanya.

Setelah matang diangkat, kemudian dianginkan sekitar 12 jam. Setelah mengeras dipotong tipis-tipis dengan ketebalan sekitar dua centimeter menggunakan pisau kemudian dilakukan pengeringan di bawah sinar matahari.

"Jika kerupuk mudah patah berarti sudah kering dan siap digoreng. Pengolahan kerupuk daun bambu itu memperoleh dana dari Dikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) 2012," katanya.

Selain Ayu, mahasiswa lain yang juga terlibat dalam pengolahan kerupuk daun bambu itu adalah Ade Rakhma Novita Sari dan Dwi Endah Suryaningtyas.(B015)



Pewarta :
Editor: Agus Priyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026