Logo Header Antaranews Jogja

Pemanfaatan listrik energi surya masih rendah

Minggu, 3 Juni 2012 22:44 WIB
Image Print
Energi surya dimanfaatkan sebagai sumber listrik (Foto antaranews.com)

Sumba (ANTARA Jogja) - Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya masih rendah, yaitu hanya 2,5 MWp per tahun padahal dalam Perpres no 5/2005 target kontribusi tenaga surya dalam bauran energi nasional yakni 0,2-0,3 persen pada 2025.

"Perlu langkah ekstra untuk mencapai target itu," kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti M Hatta di sela kunjungan ke fasilitas PV Grid Skala Besar dengan teknologi "Smart Micro Grid" di Desa Bila Cenge, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, Minggu.

Untuk mengejar target itu, menurut dia, diperlukan 0,8-1,0 GWp kapasitas terpasang PLTS, berarti perlu penambahan kapasitas sekitar 65 MWp per tahun.

Di sisi lain, sebenarnya kebutuhan akan listrik dari tenaga surya masih cukup besar, khususnya untuk daerah-daerah kepulauan terpencil yang tak terhubung dengan jaringan listrik PLN.

Oleh karena itu, menteri mendorong dipacunya industri komponen PLTS nasional untuk menggantikan teknologi impor, karena komponen impor tersebutlah yang membuat PLTS menjadi terasa mahal.

Dalam kesempatan itu, Gusti didampingi Kepala BPPT Marzan A Iskandar dan Bupati Sumba Barat Daya Kornelius Kodi Mete melihat fasilitas PLTS yang dikendalikan dengan teknologi tercanggih dan pertama di Indonesia "Smart Micro Grid" rancangan BPPT.

Sistem PLTS terbesar di Indonesia di lahan seluas 2 ha, berkapasitas daya total 500 KWp tersebut terhubung ke jala-jala PLN dan mampu melistriki sekitar 1.000 rumah dengan daya 500 Watt per rumah.

Sementara itu, Koordinator Sistem Photovoltaik BPPT Dr Kholid Akhmad mengatakan, di Bila Cenge ini BPPT mengembangkan PLTS dengan jenis sel surya adalah thin film, teknologi sel surya terbaru yang sedang dikaji BPPT dengan jumlah modul terpasang 4.656 unit.

Ia menjelaskan, meskipun sel surya di Bila Cenge ini hampir 100 persen impor, namun smart microgrid yang dikembangkan BPPT untuk mengendalikan PLTS dengan pembangkit listrik lainnya hampir 100 persen buatan sendiri.

Sampai saat ini, menurut dia, sudah ada enam perusahaan nasional yang bergerak di bidang perakitan modul surya berkapasitas rata-rata 60 MWp per tahun meski bahan baku sel suryanya masih diimpor karena belum ada industrinya di dalam negeri.

"Namun tahun ini Indonesia akan mulai memproduksi sel surya jenis kristalin di Karawang. Ini diharapkan bisa menurunkan harga listrik PLTS dan akhirnya meningkatkan minat masyarakat menggunakan PLTS, ke depanya" katanya.


(D009)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026