Logo Header Antaranews Jogja

11 negara Asia Pasifik sukseskan program FFI

Senin, 4 Juni 2012 20:25 WIB
Image Print
Kementerian Luar Negeri RI

Sleman (ANTARA Jogja) - Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerja sama dengan Ditjen Informasi dam Diplomasi Kementerian Luar Negeri RI menyelenggarakan program pelatihan "Future Feith Leaders".

"Program yang berlangsung selama 45 hari, sejak 28 Mei hingga 14 Juni diikuti 15 peserta dari 11 negara di kawasan Asia Pasifik," kata koordinator Program "Future Feith Leaders" (FFl) Dr Muhammad Wildan, Senin.

Menurut dia, 15 peserta yang lolos mengikuti program ini antara lain Muqqarommah S Kurdi, Andrian Liem dan I Nyoman Wija dari Indonesia, Emily Fraser dan Anusha Yatawara dari Australia, Carlo Giovani Aquino David dari Selandia Baru, Daryl Tan Yue Hwa dari Singapura.

Kemudian, Tin Hlaing dari Myanmar, Jeremiah G. Dalida dari Filipina, Kongdej Komchanton dari Thailand, Akhun Bin Muda dari Malaysia, Duong Minh Tho dari Vietnam, Douangsamone Nathalath dari Laos, Laisaini Baleibou dan Mr Tavite Uluilakeba dari Fiji.

"FFL merupakan salah satu bagian dari beasiswa seni dan budaya Indonesia dari Kementerian Luar Negeri RI," katanya.

Ia mengatakan, melalui UIN Sunan Kalijaga, mereka ini akan berada di Yogyakarta untuk belajar berbagai hal secara akademik dan pengamatan di lapangan tentang budaya Indonesia, berbagai bentuk kearifan lokal yang hidup di Indonesia, serta dinamika dan pluralitas kehidupan beragama di Indonesia.

"Mereka ini selain mendapatkan pelatihan-pelatihan tentang Islam di Indonesia, keragaman agama dan masyarakat di indonesia, keragaman dan budaya di Indonesia, mereka juga akan belajar melihat langsung kehidupan masyarakat antara lain ke komunitas pesantren, seminari, Vihara, Gereja, Masjid, dan berbagai komunitas lain," katanya.

Muhammad Wildan mengatakan, peserta juga akan berinteraksi langsung dengan komunitas seni dan budaya seperti padepokan Pencak Silat, perkumpulan musik religius, Kraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, sanggar teater dan sanggar batik yang ada di Yogyakarta.

"Sebelum berinteraksi dengan masyarakat agama, seni dan budaya mereka akan mendapatkan pembekalan di kelas di antaranya tentang Religion and Conflict Resolution, Current Issues on Islam in Indonesia, Religion and Local Culture, Religious Institutions in Indonesia," katanya.

Ia mengatakan, tempat-tempat yang sudah mereka kunjungi setelah mereka melakukan pembekalan antara lain Pondok Pesantren Krapyak, Seminari, Vihara Mendud, interfidey, ICRS, Gereja Ganjuran, Masjid Sam Po Kong, Kominitas Sumarah Sapto Darmo, grup musik religius Padang Bulan, Sanggar Nuun, dan Al Mizan, Sanggar Membatik dan keraton Yogyakarta.

"Dengan pengalaman yang didapat ini, diharapkan setelah kembali ke negara masing-masing para peserta dapat menjadi juru bicara tentang kerukunan dalam keragaman agama dan budaya yang ada di Indonesia," katanya.

(V001)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026