Logo Header Antaranews Jogja

Implementasi SPKK di Indonesia belum optimal

Sabtu, 16 Juni 2012 21:29 WIB
Image Print
Kampus Universitas Islam Indonesia (Foto Antara/Rizky)

Jogja (ANTARA Jogja) - Implementasi Sistem Pendukung Keputusan Klinis di Indonesia belum optimal karena masih menghadapi kendala, kata pakar informatika medis dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Sri Kusumadewi.

"Kendala itu di antaranya sumber daya manusia yang menguasai sistem tersebut masih terbatas," katanya pada Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi (SNATI) 2012 di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, Sistem Pendukung Keputusan Klinis (SPKK) merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk membantu memberikan keputusan klinis bagi pasien.

"Hal itu dilakukan dengan cara mencocokkan karakteristik yang ada pada pasien dengan basis pengetahuan yang ada dalam komputer, kemudian dokter akan memberikan penilaian atau rekomendasi klinis," katanya.

Ia mengatakan di bidang ilmu komputer telah dikembangkan beberapa metode yang bertujuan untuk menggali nilai tambah dari suatu kumpulan data yang dikenal dengan model "data mining".

"Beberapa metode yang ada pada model `data mining` merupakan salah satu komponen pendukung utama pada sistem berbasis pengetahuan. Penggunaan `data mining` di bidang medis terkait dengan dukungan pengambilan keputusan pada SPKK," katanya.

Menurut dia, riset di bidang SPKK pada 10 tahun terakhir lebih banyak difokuskan pada peningkatan kualitas dan kemungkinan pelayanan kesehatan melalui efisiensi dan pengurangan biaya.

"Tujuan itu semakin mungkin dan mudah dicapai seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi," kata dosen Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) itu.

Menurut dia, dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi, data rekam medik pasien tidak lagi berupa tumpukan kertas, tetapi sudah dapat disimpan secara digital dalam bentuk Electrical Medical Record (EMR) yang dapat diorganisasi dengan baik.

Selain itu, dokumen pendukung catatan medik pasien berupa data pencitraan medis maupun data uji laboratorium juga sudah terdokumentasi secara digital yang terkoneksi langsung dengan peralatan pengambilan sampelnya.

"Beberapa SPKK yang telah dibangun terutama bertujuan untuk peningkatan pelayanan kesehatan, di antaranya `preventive care` dan diagnosis," kata Sri.

Ketua Panitia SNATI 2012 Hamid mengatakan bahwa SNATI merupakan seminar yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh Jurusan Teknik Informatika FTI UII.

Menurut dia, SNATI merupakan sebuah forum yang memfasilitasi perkembangan duni teknologi informasi dengan mempertemukan akademisi dan praktisi untuk saling mengembangkan pengetahuan dan ide baru.

"SNATI 2012 mengusung tema besar `Data Mining`, yakni sebuah tema yang sedang hangat dan konsep teknologi yang dapat digunakan untuk mencari nilai tambah dari sekumpulan data," kata Hamid.

(L.B015)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026