Logo Header Antaranews Jogja

Program diploma strategis hadapi pasar global

Sabtu, 21 Juli 2012 15:13 WIB
Image Print
Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Foto Antara)

Jogja (ANTARA Jogja) - Program diploma atau vokasi memiliki fungsi yang strategis dalam persaingan di pasar global, karena mencetak tenaga kerja terampil yang siap kerja, kata Direktur Politeknik "UMY" Yogyakarta Sudardja.

"Program itu menjadi benteng dari membanjirnya para tenaga ahli asing ke Indonesia. Penyelenggara pendidikan vokasional untuk mempersiapkan lulusannya agar unggul dalam menghadapi iklim yang semakin kompetitif," katanya di Yogyakarta, Sabtu.

Berkaitan dengan hal itu, menurut dia, pihaknya melakukan penataan dan pembenahan baik internal maupun eksternal agar siap bersaing dalam kancah persaingan global.

"Tiga program studi yang tersedia, yakni Teknik Elektromedik, Teknik Mesin Otomotif dan Produksi, dan Akuntansi Terapan telah siap menerima mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2012/2013," katanya.

Ia mengatakan untuk kegiatan akademik berupa perkuliahan maupun praktikum serta administratif semua akan dilaksanakan di kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

"Upaya yang selama ini sudah dilakukan untuk menyiapkan lulusan yang siap bersaing di pasar kerja lokal maupun internasional antara lain dengan memperbaiki dan meng-`up date` kurikulum dan menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan," katanya.

Selain itu, juga membekali para lulusan dengan "softskill" dan "hardskill" yang menunjang seperti penguasaan bahasa asing.

"Setelah menjadi Politeknik `UMY` Yogyakarta, para lulusan akan semakin mudah memperoleh pekerjaan, karena sekarang sekitar 75 persen mahasiswa telah dipesan oleh beberapa perusahaan dan rumah sakit sebelum lulus, dan kelak pasti akan disalurkan lebih baik lagi," katanya.

Wakil Direktur Politeknik "UMY" Yogyakarta Barbara Gunawan mengatakan selama ini muncul asumsi di tengah masyarakat bahwa program diploma atau vokasi tersebut memiliki kasta yang lebih rendah dibandingkan dengan program sarjana.

Menurut dia mengambil program diploma dianggap sekadar sebagai alternatif ketika tidak berhasil menembus program sarjana. Asumsi seperti itu harus dihilangkan, karena sebenarnya antara program sarjana dan vokasional memiliki orientasi yang berbeda.

"Program sarjana lebih berorientasi pada riset, sedangkan program diploma lebih menekankan pada keterampilan," katanya.

(L.B015)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026