
Subsidi listrik semakin membebani APBN

Jakarta (ANTARA Jogja) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan subsidi listrik membebani APBN dengan jumlah yang meningkat setiap tahun, sehingga harus ada penyesuian tarif listrik sebesar empat persen per tiga bulan.
"Subsidi listrik sudah hampir sebesar Rp100 triliun, sehingga perlu kenaikan untuk mengurangi beban itu," kata Jero Wacik dalam konferensi pers penjelasan pemerintah tentang Nota Keuangan dan RAPBN 2013 di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan saat ini subsidi listrik banyak dinikmati masyarakat menengah ke atas. Padahal banyak masyarakat miskin di berbagai daerah belum menikmati listrik sehingga subsidi yang besar ini harus dikurangi.
Pada 2012 beban subsidi di APBN mencapai Rp65 triliun dan pada RAPBN 2013 diperkirakan mencapai Rp80,9 triliun.
"Kelompok menengah tumbuh lebih dari 56 persen, sehingga pemerintah mau mengurangi subsidi listriknya," kata menteri.
Kendati demikian, Jero masih hati-hati khususnya terhadap daya beli masyarakat.
"Subsidi jangan tidak tepat sasaran, rumah yang 450 KVA tetap diberikan subsidi, di atas itu tidak. Yang punya 6.000 KVA ke atas itu, tidak ada subsidinya," kata Jero.
Ia mengatakan pemerintah mengupayakan penerapan energi baru dan terbarukan secara masif. Energi baru dan terbarukan itu seperti gas, batu bara, geotermal (panas bumi), panas matahari, dan bio massa.
"Kemarin saya menandatangani SK untuk menaikkan investasi geothermal. Kita akan beri dana lebih besar untuk pengembangan geothermal," katanya.
Dia mencontohkan dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi, biaya di Sumatera, Sulawesi, Papua hanya 16-18 sen dolar AS per Kwh, sedangkan kalau dengan menggunakan BBM sebesar 40 dolar AS per Kwh. "Harus pindah dari BBM ke non-BBM untuk listrik," kata Jero Wacik.
(SDP-45)
Pewarta :
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
