Logo Header Antaranews Jogja

Indonesia angkat LK3 pada forum menteri

Rabu, 3 Oktober 2012 08:30 WIB
Image Print
Mensos Salim Segaf Al Jufri (( antaranews.com))

Jakarta (ANTARA Jogja) - Menteri Sosial Salim Segaf Al JUfri mengangkat program Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga pada "The 5th East Asia Ministerial Forum on Families" yang berlangsung di Brunei Darussalam.

"Program LK3 itu dirancang lebih dinamis demi mendorong keluarga harmonis," katanya seperti disampaikan Tenaga Ahli Mensos bidang Tata Kelola Pemerintahan dan Kehumasan Drs Sapto Waluyo MSc saat menghubungi ANTARA dari Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, Rabu pagi.

Ia menjelaskan, dalam kesempatan itu Mensos menyatakan bahwa forum tersebut sangat penting karena membahas pengalaman berbagai negara dalam pembinaan keluarga di tengah kondisi global yang berubah cepat.

Tema yang dibahas kali ini, yakni "Ensuring Work Family Balance", katanya, sangat relevan karena di banyak negara menggejala kaum perempuan yang bekerja, bahkan menjadi kepala keluarga.

"Dalam konteks itu bagaimana kita membagi waktu antara pekerjaan dan pengasuhan anak dan penguatan kasih sayang keluarga," kata Mensos.

Mensos menegaskan bahwa peran keluarga dalam konteks masyarakar Indonesia tidak terbantahkan.

Salim Segaf kemudian merujuk pada fenomena tawuran pelajar yang mengguncangkan dunia pendidikan, antara lain disebabkan lemahnya kontrol orangtua.

Pelaku penusukan di SMAN Bulungan, Jakarta, kata dia, ternyata tinggal di tempat kos yang berpindah-pindah karena orangtuanya bekerja di kota lain.

"Masyarakat Indonesia sedang berubah, dari 237 juta penduduk, komposisi kepala keluarga (KK) lelaki 88,47 persen (56,1 juta) dan KK perempuan 11,53 persen (7,3 juta)," katanya.

Kondisi itu, menurut Mensos, menunjukkan kaum ibu turut berjuang mencari nafkah. "Masalah kita, tingkat
pengangguran dan kemiskinan masih cukup tinggi. Karena itu, kita melancarkan PKH (program keluarga harapan) dan KUBE (kelompok usaha bersama) untuk meningkatkan ketahanan dan keberdayaan keluarga miskin," katanya.

Ia kemudian merujuk data lain BPS tahun 2010 yang menyebutkan rumah tangga perempuan yang berstatus cerai hidup sebesar 14,40 persen dan cerai mati 64,68 persen.

Kepala rumah tangga lelaki dengan status cerai hidup 0,91 persen dan cerai mati 2,39 persen.

"Perempuan 'single parent' juga cukup besar 31,60 persen dibanding lelaki 'single parent' 3,53 persen," katanya.

Sapto Waluyo menambahkan, Mensos menghadiri "The 5th East Asia Ministerial Forum on Families" yang diikuti 15 negara di Bandar Seri Begawan, 2-3 Oktober 2012 bersama utusan lainnya dari Indonesia, yakni lembaga yang terkait dengan masalah keluarga.

Delegasi Indonesia terdiri atas pejabat Kemenko Kesra, Kemensos, Kemeneg PP dan PA, serta BKKBN.
(A035)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026