
Pemuda pegang peranan penting jaga lingkungan

Jogja (ANTARA Jogja) - Pemuda dan mahasiswa memegang peranan penting dalam membentuk perilaku tanggap dan cinta terhadap lingkungan, baik dalam lingkup lokal, nasional maupun regional, kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Meutia Hatta Swasono.
"Mereka dinilai dapat membantu mengatasi kondisi lingkungan global yang semakin memburuk, sejalan dengan pertumbuhan pembangunan negara-negara di dunia yang kurang peduli terhadap lingkungan. Dampak perubahan terjadi pada semua negara, baik yang maju maupun berkembang," katanya di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin.
Menurut dia pada dialog interaktif "Budaya dan Lingkungan", masa depan Indonesia diukur dari tingkat kesiapan dan kemampuan pemuda dan mahasiswa untuk mendidik diri sendiri menjadi pelaku pembangunan yang andal. Mereka yang akan memimpin bangsa untuk mengisi kemajuan global, salah satunya kemajuan di bidang lingkungan.
"Tanpa lingkungan yang baik, kemajuan bangsa dan negara akan terhambat, dan bukan tidak mungkin mengakibatkan ketergantungan pada negara lain atau institusi global untuk membangun negaranya sendiri dengan desain yang belum tentu cocok dengan kebutuhan bangsa dan negara," katanya.
Ia mengatakan ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemuda dan mahasiswa saat ini untuk membangun budaya mencapai kondisi lingkungan yang lebih baik.
"Cara itu di antaranya dengan meningkatkan pengetahuan tentang lingkungan, mengubah pola pikir masyarakat agar peduli terhadap perlindungan, pelestarian, pemeliharaan lingkungan, dan menggerakkan kegiatan positif yang berkaitan dengan lingkungan," kata Guru Besar Antropologi Fisip Universitas Indonesia (UI) itu.
Rektor UII Edy Suandi Hamid mengatakan dari segi kualitas dan kuantitas alam Indonesia rusak karena kecerobohan dalam pengelolaan sumber daya alam.
"Secara kualitas, menurut buku yang diterbitkan LP3S berjudul `Indonesia Dulu, Kini, dan Sekarang`, kerusakan hutan tropis di Indonesia pada tahun 1970-an sudah sangat parah mencapai 300.000 hektare per tahun, sekarang tiga juta hektare per tahun. Artinya perusakan terus terjadi katanya.
Menurut dia secara kuantitas alam Indonesia juga merosot. Berdasarkan laporan Bank Dunia, Indonesia memang termasuk negara yang kaya sumber daya alam.
"Namun, kenyataannya income per kapita Indonesia di bawah Malaysia. Artinya kita tidak lagi kaya," kata Edy yang juga Ketua Umum Asosisasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) itu.
Sebelum dialog, Meutia Hatta didampingi Edy Suandi Hamid menanam pohon trembesi di halaman Gedung Mohammad Hatta Perpustakaan Pusat UII.
(B015)
Pewarta :
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
