Logo Header Antaranews Jogja

Penyinaran lampu mampu tingkatkan produktivitas buah naga

Senin, 12 November 2012 12:55 WIB
Image Print
Budi daya buah naga (antaranews.com)

Sleman (ANTARA Jogja) - Pengelola "Sabila Farm" di Desa Pakembingangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menemukan teknik penyinaran dengan menggunakan cahaya lampu listrik untuk membantu tanaman buah naga berbuah lebih banyak dan tidak tergantung pada musim.

"Tanaman buah naga membutuhkan waktu penyinaran sinar matahari dalam sehari sekitar 13 jam, karena dalam satu hari maksimal hanya 12 jam mendapat sinar matahari maka hal ini bisa disiasati dengan menggunakan lampu pijar," kata pemilik dan pengelola kebun buah "Sabila Farm" Gun Sutopo, Senin.

Menurut dia, temuan teknik penyinaran dengan lampu ini ia temukan dari pengamatan salah satu tanaman buah naga yang ada dikebunnya yang dapat berbuah bukan pada saat musimnya.

"Kami amati kenapa satu tanaman tersebut dapat berbunga dan berbuah sendiri padahal yang lainnya tidak. Setelah kami amati ternyata di dekat tanaman tersebut terdapat lampu penerangan untuk kamar mandi yang ada di kebun buah naga," katanya.

Ia mengatakan, dari situ dirinya kemudian mencoba untuk memberi lampu pada sekitar tanaman yang lain, dan ternyata hasilnya memang tanaman-tanaman buah naga itu tidak lama kemudian berbunga.

"Dari hasil uji coba ini kami yakin bahwa tanaman buah naga dapat dirangsang pertumbuhan bunganya dengan menggunakan teknik penyinaran lampu listrik di sekitarnya. Bahkan satu pohon ada yang berbuah sampai 80, sedangkan rata-rata hanya 20 sampai 30 bunga," katanya.

Gun Sutopo mengatakan, saat ini memang belum semua area kebun buah naga miliknya yang luasnya mencapai 6,5 hektare tersebut dipasang lampu untuk membantu meningkatkan produktivitas buah naga.

"Ini masih bertahap, satu sisi karena masih dalam rangka uji coba dan pada sisi lain karena kebun ini berada di tengah perkampungan, sehingga jika seluruh area dipasang lampu dikhawatirkan akan mengganggu masyarakat, karena terlalu terang," katanya.

Gun Soetopo bersama istrinya, Elly Mulyati, merintis kebun buah naga di Dukuh Kertodadi, Pakem dan mulai membangun Sabila Farm pada 2006 dengan menyewa tanah kas desa setempat.

Luas total lahan yang lebih dari 90 persen tanah cadas tersebut 8,2 hektare, lebih dari 6,5 hektare untuk kebun buah naga dan sepertiga hektare ditanami srikaya dan delima, sedangkan area-area yang masih kosong ditanam pisang, durian, dan berbagai sayuran.

Selama ini buah naga dan srikaya hasil kebun buah "Sabila Farm" banyak dicari masyarakat. "Saya mampu menjual buah naga merah dengan harga Rp30 ribu per kilogram dan buah naga putih Rp20 ribu per kg. Sedangkan di pasaran umum harga rata-rata buah naga antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kg," katanya.

Ia mengatakan, begitu juga dengan buah srikaya, jika di pasaran harganya berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000 per kg, maka dirinya bisa menjul dengan harga antara Rp30.000 hingga Rp50.000 per kg.

"Pasar sudah percaya dan mereka tidak mengeluh dengan harga yang saya berikan, karena mereka mendapatkan kepuasan. Berani dibandingkan produk buah dari kebun saya dengan produk buah lainnya," katanya.

Dengan menjual harga yang jauh di atas harga pasar itupun, pihaknya masih kualahan untuk memenuhi permintaan bahkan pembeli selalu antri dan rela bayar di muka.

"Sampai saat ini banyak permintaan untuk toko-toko swalayan dan super market, namun saya tidak mau. Buah dari "Sabila Farm" tidak akan saya pasarkan di toko-toko modern. Ini juga sebagai upaya untuk menghidupkan dan memberdayakan usaha-usaha kecil milik masyarakat," katanya.
(U.V001)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026