
Pengembangan pendidikan vokasi perlu sinergitas

Jogja (ANTARA Jogja) - Pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia memerlukan keseriusan dan sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan pemerintah, kata Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Pratikno.
"Hal itu perlu, karena kebutuhan tenaga kerja siap pakai yang terampil dan kompeten di bidangnya semakin dibutuhkan," katanya pada seminar `Sinergitas Pendidikan Vokasi dan Industri untuk Menjawab Kebutuhan Tenaga Kerja Terampil`, di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, seiring dengan perkembangan ekonomi dunia, kompetisi untuk masuk pasar kerja juga semakin ketat. Selain itu juga diperlukan tenaga-tenaga terampil untuk bisa mengisi dan membuka lapangan kerja baru.
"Kompetisi semakin ketat. Lihat saja para manajer perusahan-perusahaan itu justru berasal dari negara asing," katanya.
Ia mengatakan beberapa negara yang terus mengembangkan diri di pasar kerja seperti Australia, Korea Selatan, China, Selandia Baru, dan India. Negara-negara tersebut telah masuk di pasar kerja tingkat ASEAN termasuk di Indonesia.
"Jika kita tidak menyiapkan sumber daya manusia yang terampil dan kompeten, hal itu menjadi ancaman," katanya.
Menurut dia, pengembangan yang dilakukan UGM melalui Sekolah Vokasi salah satunya dengan mendesain kurikulum yang fleksibel dan membuka ruang bagi dunia industri untuk berperan.
"Kurikulumnya kita desain agar lebih fleksibel dan membuka ruang bagi industri untuk berperan. UGM memberikan perhatian yang cukup besar dan serius bagi pengembangan Sekolah Vokasi," katanya.
Direktur Sekolah Vokasi UGM Hotma Prawoto Sulistyadi mengatakan belum ada "link and match" antara institusi pendidikan dengan dunia industri, khususnya di bidang ketenagakerjaan. Hal itu merupakan pemborosan yang merugikan negara.
Selain itu, juga masih ada inefisiensi dalam rekrutmen tenaga kerja di Indonesia. Sebagian besar rekrutmen, terutama yang dilakukan pihak ketiga, belum secara sungguh-sungguh memberikan jaminan kompetensi tenaga kerja yang direkrut kepada industri, sehingga industri pemakai masih harus melakukan pelatihan dan pemagangan.
Menurut dia, pada 2013 akan masuk ke Indonesia tenaga kerja asing khususnya dari China dalam jumlah yang cukup banyak. Ironisnya, tenaga kerja asing tersebut bukan dari tingkatan sarjana, magister, atau doktor, tetapi tenaga terampil di level sekolah menengah dan diploma.
"Hal itu memerlukan strategi penangkalan yang sistematik dan komprehensif serta sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri dalam kolaborasi yang benar-benar terpadu," katanya.
(B015)
Pewarta :
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
