
Disbudpar Bantul gencarkan pengembangan desa wisata

Bantul (ANTARA Jogja) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menggencarkan pengembangan desa wisata sebagai tujuan wisata alternatif setelah objek wisata pantai.
"Kami punya komitmen untuk pengembangan desa wisata karena dampaknya akan langsung ke masyarakat dan meningkatkan pendapatan desa," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bantul Bambang Legowo, Rabu.
Menurut dia, dari 75 desa di Bantul ada 26 desa yang mengklaim sebagai desa wisata, akan tetapi baru delapan desa yang benar-benar sudah mandiri karena selalu mendapat kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
Ia menyebutkan, desa wisata yang sudah mandiri itu seperti desa wisata Candran, Kebonagung, Rumah Budaya Tembi, sentra kerajinan gerabah Kasongan, sentra batik Giriloyo, sentra budi daya ulat sutera di Karangtengah.
"Bagi desa wisata yang masih berkembang dan rintisan kami bantu melalui promosi, leaflet dan pembinaan serta difasilitasi untuk mengajukan bantuan ke pemerintah provinsi maupun melalui PNPM Perdesaan," katanya.
Bambang mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya telah mempertemukan para Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk mempertanyakan lagi keseriusan dan komitmennya menjadikan desa sebagai desa yang memiliki nilai jual.
"Kami kumpulkan dan ditanting apakah tetap serius menjadikan desa sebagai desa wisata atau tidak, kami beri waktu enam bulan sampai setahun dan kemudian kami evaluasi," katanya.
Jika di suatu kawasan desa wisata bisa meningkatkan sumber daya masyarakat, kata dia, desa wisata akan diikutsertakan dalam daftar desa wisata dan akan dibuatkan surat keputusan (SK) Kepala Dinas sebagai legalitas.
Menurut dia, yang menjadi kelemahan belum berkembang pesatnya desa wisata tersebut kemungkinan besar dari segi sumber daya manusia dan kepemimpinan desa yang kurang sehingga sangat berpengaruh bagi perkembangan.
"Untuk meningkatkan SDM itu kami gandeng elemen yang bergerak di bidang pariwisata seperti ASITA, dan kalangan akademik. Untuk mengembangkan desa wisata kami juga melibatkan pelatih dari sebanyak 16 perguruan tinggi di Yogyakarta," katanya.
(KR-HRI)
Pewarta :
Editor:
Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
