
Lembaga pendidikan perlu gunakan laboratorium virtual

Jogja (ANTARA Jogja) - Lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi perlu menggunakan laboratorium virtual sebagai pengganti sarana laboratorium riil agar biaya pendidikan lebih efisien, kata pakar teknik elektro Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Muchlas.
"Pada tingkatan kebijakan sudah saatnya pemerintah memasukkan laboratorium virtual sebagai bagian dari sarana praktik yang diakui keberadaaannya bagi suatu program studi," katanya pada sosialisasi produk pengembangan laboratorium virtual di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu.
Dengan demikian, menurut Muchlas yang juga Wakil Rektor I UAD, dalam berbagai kegiatan monitoring dan evaluasi oleh pemerintah seperti akreditasi, laboratorium virtual dapat diakui sebagai bagian dari sumber daya yang dimiliki suatu program studi.
"Untuk itu perlu diupayakan pengembangan sarana labotarium virtual yang pada sisi pendanaannya memberikan tingkat pembiayaan yang murah, sedangkan pada sisi pelaksanaannya dapat dilakukan secara fleksibel sekaligus mampu membangkitkan motivasi mahasiswa yang mengikutinya," katanya.
Ia mengatakan implementasi laboratorium virtual cukup dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak komputer berbentuk simulator yang pengadaannya jauh lebih murah dibandingkan dengan pengadaan leboratorium riil atau "hands-on".
Selain itu seiring dengan perkembangan teknologi infomrasi yang semakin pesat saat ini telah tersedia berbagai aplikasi simulator maupun perangkat lunak pendukung komunikasi yang dapat diperoleh secara "free of charge" yang dapat digunakan sebagai bagian dari pengembangan laboratorium virtual berkinerja tinggi.
"Pengembangan laboratorium virtual itu untuk mendukung implementasi model pembelajaran praktik `online` yang dilengkapi fasilitas kolaborasi `online` sehingga mahasiswa peserta praktik dapat melakukan kegiatannya dengan cara bekerja sama secara `online`, baik dalam berdiskusi, bimbingan dengan instruktur maupun menggunakan simulator sebagai pengganti alat dan bahan yang riil," katanya.
Menurut dia, pengembangan laboratorium virtual itu menghasilkan produk berupa portal laboratorium virtual yang dapat digunakan dosen, instruktur, dan mahasiswa untuk mengakses perangkat pendukung kegiatan praktik "online" seperti "softcopy" buku ajar, panduan penggunaan simulator, panduan praktik "online", dan panduan praktik bidang studi atau mata kuliah.
"Laboratorium virtual dikembangkan dengan menggunakan perangkat lunak aplikasi gratis yang mudah dalam pengoperasiannya, menjadikan biaya penyediaan laboratorium virtual itu semakin murah," katanya.
(B015)
Pewarta :
Editor:
Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026
