Logo Header Antaranews Jogja

Printing batik ancam industri batik DIY

Selasa, 8 Januari 2013 13:25 WIB
Image Print
Dosen jurusan Manajemen Universitas Gajah Mada, Basu Swastha Dharmmestha. (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (ANTARA Jogja) - Kain cap atau printing bermotif batik menghancurkan pasaran dan industri batik tradisional, kata dosen Jurusan Manajemen Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Basu Swastha Dharmammesta di Kulon Progo.

"Mari kita bersama-sama melawan printing atau kain cap yang menggunakan motif batik, supaya batik tradisional terus berjaya untuk jangka panjang," kata Basu Swastha, Selasa.

Menurut dia, pengusaha kain cab hanya mengejar keuntungan semata. Pemerintah Kota Yogyakarta, telah mengeluarkan kebijakan melawan kain cap atau printing bermotif batik dijual di XT Square. Larangan tersebut bertujuan untuk melindungi perajin batik di Kota Yogyakarta.

"Membatik memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat luas mulai dari perajin, penjual malam dan kain. Kalau printing hanya menguntungkan pengusaha, proses pembuatan printing dikerjakan oleh mesin," katanya,

Ia mengatakan, di DI Yogyakarta tidak ada perajin batik trandisional yang menonjol. Meski demikian, batik dari Kabupaten Bantul masih mendominasi di DIY. Perajin batik dari Bantul mampu menyuguhkan corak hingga warga batik yang dibutuhkan konsumen.

Akibatnya, permintaan batik dari Kabupaten Bantul terus mengalami peningkatan yang signifikan dari hari ke hari.

"Membatik membutuhkan kreativitas yang menutuntut perajin selalu melakukan inovasi menciptakan kreasi yang disukai masyarakat atau konsumen. Perajin batik, dituntut membuat corak batik yang berkarakter dengan mengusung tema tertentu," kata Basu.

Menurut dia, hal yang menentukan dalam penjualan batik adalah produksi, keuangan, penelitian dan pengembangan dan manajemen sumber daya manusia (SDM) yang tangguh untuk menarik pelanggan atau membuat rasa puas pelanggan terhadap karya batik.

Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo, mengatakan pemerintah kabupaten (pemkab) Kulon Progo menggalakan pemakaian batik "gebleg renteng" corak asli daerah setempat. Kebijakan tersebut dalam rangka meningkatkan kesejahteraan perajian, tapi juga mendorong pertumbuhan sektor ekonomi riil masyarakat.

"Batik corak gebleg renteng ini sudah dipakai oleh seluruh pegawai negeri sipil (PNS), PAUD, anak sekolah dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengan Atas (SMA) di Kulon Progo. Kami sangat bangga, meningkatnya permintaan batik mampu menumbuhkan sektor industri rumah tangga dan meningkatkan kesejahteraan warga," kata bupati.

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Mamiek
COPYRIGHT © ANTARA 2026