
Menkeu kaji asumsi makro APBN 2013

Jakarta (Antara Jogja) - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan mulai mengkaji beberapa asumsi makro dalam APBN 2013 yang mulai menunjukkan ketidaksesuaian dibandingkan dengan realisasi pada awal 2013.
"Kami masih melakukan kajian dan kalau dilihat dari sisi asumsi memang ada mismatch antara asumsi yang ditetapkan dengan kondisi sekarang," ujarnya di Jakarta, Rabu.
Agus mengatakan asumsi makro yang berada dalam kajian antara lain laju inflasi, serta harga ICP minyak mentah dan lifting minyak yang memiliki keterkaitan langsung dengan anggaran belanja subsidi energi.
"Itu semua masih dikaji, apakah berdampak pada kinerja setahun. Namun harus juga harus dilihat terkait dengan subsidi BBM dan energi agar bagaimana platfonnya sesuai ketetapan," ujarnya.
Untuk itu, ia mengatakan pengajuan APBN-Perubahan dapat dilakukan lebih awal apabila asumsi makro tersebut telah meleset jauh dan dapat membahayakan kesehatan fiskal secara keseluruhan.
"Kami perlu menyepakati APBN-P, kalau dilakukan untuk pos-pos yang benar-benar penting, istilahnya memang perlu, sedangkan selebihnya kita harus berdasarkan proses karena APBN ini untuk setahun," kata Agus.
Pemerintah dalam APBN 2013 memberikan asumsi pertumbuhan ekonomi 6,8 persen, inflasi 4,9 persen, tingkat bunga SPN 3 bulan 5 persen, nilai tukar Rp9.300, harga minyak mentah 100 dolar AS per barel dan lifting minyak 900 ribu barel per hari.
Pada 2012, pemerintah mengajukan APBN-Perubahan pada Maret, karena sejumlah asumsi makro telah meleset dari perkiraan sehingga rencana menyesuaikan harga BBM mengemuka sebagai upaya mengurangi beban subsidi energi.
Rapat paripurna akhirnya mengesahkan APBN-Perubahan pada awal April, namun DPR RI menolak untuk menaikkan harga BBM bersubsidi, sehingga pada akhir tahun realisasi belanja subsidi energi melebihi pagu yang ditetapkan.
(S034)
Pewarta :
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
