Logo Header Antaranews Jogja

Masyarakat Kulon Progo gelar "merti desa"

Minggu, 10 Maret 2013 21:06 WIB
Image Print
Kalangan masyarakat Desa Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, DIY, menggelar gelaran merti desa. (Foto ANTARA/Mamiek)

Kulon Progo (Antara Jogja) - Masyarakat Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyelenggarakan "Gelaran Merti Desa" untuk memperingati hari jadi ke-88 desa setempat, Minggu.

Kepala Desa Panjatan Arianto Tri Atmoko di Kulon Progo mengatakan "Gelaran Merti Desa" dengan kegiatan utama kirab budaya, dimaksudkan sebagai wujud ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua karunia yang telah dianugerahkan.

Ratusan warga dari lima pedukuhan atau dusun berpartisipasi sebagai peserta. Masing-masing pedukuhan menampilkan sebuah replika raksasa beberapa hasil bumi seperti cabai, kelapa, pisang, dan lain sebagainya.

Selain itu, juga ada belasan kelompok peserta yang menampilkan kesenian tradisional yakni "jathilan", punokawan, cerita Ramayana, dan kisah Hanoman, marching band, dan atraksi lainnya.

Kirab tersebut diawali oleh "bregada" atau belasan prajurit "Lombok Abang".

Kirab menempuh jarak sekitar dua kilometer, dimulai dari halaman kantor Kecamatan Panjatan hingga balai desa setempat.

Ribuan warga masyaraka tumpah ruah di pinggir jalan desa yang menjadi rute untuk menyaksikan kirab budaya tersebut.

Sebagai persembahan, masyarakat membat gunungan uluwetu setinggi satu meter yang dirangkai dari berbagai hasil bumi menjadi pokok utama dalam kirab budaya di desa Panjatan tersebut. Gunungan itu diletakkan dalam sebuah jogang besar dan ditandu empat orang pria.

"Kegiatan ini juga sebagai bentuk bersih desa dan permihinan pada penguasa kehidupan agar warga desa setempat hidup tentram dan makmur serta terhindar dari petaka," kata Arinto.

Menurut Arinto, hari jadi ke-88 Desa Panjatan adalah angka yang istimewa, spesial dan sempurna. Angka ini juga selaras dengan pemaknaan batik geblek renteng khas Kulon Progo.

"Kalau tahun kemarin merti desa digelar sederhana, kali ini kami juga mengadakan kirab budaya biar semakin. Intinya adalah mensyukuri segala nikmat hasil bumi dari Sang Pencipta," kata Arinto.

Ia mengatakan Desa Panjatan lahir pada 1925. Asal mula nama Panjatan menurutnya berasal dari sebutan masyarakat kala itu yang merujuk pada sebuah tanjakan di pojok wilayah desa tersebut. Awalnya wilayah desa Panjatan masih banyak hutan dan rawa. Untuk mencapai desa, masyarakat dari wilayah desa lain harus melalui tanjakan tersebut. Alhasil, tanjakan tersebut menjadi tetenger atau penanda wilayah dan asal mula nama desa Panjatan.

"Ada daratan yang dikepung rawa-rawa. Warga harus melalui panjatan itu untuk masuk ke desa ini. Oleh karena itu, namanya jadi Desa Panjatan," katanya.

Peserta kirab Iin Tri Indarti (42) merasa senang dengan adanya kirab tersebut. Karena, suasana perayaan hari jadi desa lebih semarak dan ramai. Selain itu, semua warga juga bisa berpartisipasi dengan ikut kirab.

"Ini sangat luar biasa, ramainya melebihi perayaan tahun lalu. Saya senang bisa ikut kirab muter desa," kata warga Dukuh II itu.

(KR-STR)



Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2026