Logo Header Antaranews Jogja

Ratusan warga dan wisatawan ikuti "Labuhan Merapi"

Senin, 10 Juni 2013 12:56 WIB
Image Print
Sejumlah abdi dalem mengikuti prosesi Labuhan Merapi di Pos I Srimanganti, Lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (10/6)(Foto Antara/Noveradika)

Sleman (Antara Jogja) - Ratusan warga dan wisatawan mengikuti prosesi "Labuhan Gunung Merapi"pada Senin pagi yang digelar setiap tahun untuk memperingati "Tingalan Dalem" atau naik tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Prosesi ritual yang dimulai sekitar pukul 06.15 WIB tersebut, diawali dengan doa bersama di bekas lokasi rumah mantan juru kunci Gunung Merapi Ki Surakso Hargo atau Almarhum Mbah Maridjan di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Ratusan masyarakat dan wisatawan, baik dari Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta maupun luar daerah stempat berbaur dengan para "abdi dalem" Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, bersama-sama duduk bersila untuk memanjatkan doa di depan altar yang digunakan untuk menempatkan "uba rampe" atau benda yang akan dilabuh.

Selesai doa bersama, sekitar pukul 06.30 WIB rombongan "abdi dalem" mulai mengawali ritual itu, yang dipimpin juru kunci Gunung Merapi Kliwon Surakso Hargo atau lebih dikenal dengan sebutan Asih yang merupakan putra ketiga Mbah Maridjan.

Rombongan "abdi dalem" yang diikuti ratusan masyarakat kemudian dengan tanpa mengeluarkan suara, berjalan naik melewati lereng Gunung Merapi menuju bukit yang disebut bangsal Sri Manganti, lokasi dimana prosesi labuhah Gunung Merapi digelar.

Meskipun harus menempuh jarak lebih dari dua kilometer dengan medan menanjak di kaki Gunung Merapi, nampak ratusan masyarakat tidak surut untuk mengikuti upacara adat itu.

Sejumlah relawan berasal dari berbagai kelompok juga nampak membantu prosesi labuhan itu, untuk mengantisipasi jika ada masyarakat yang kelelahan atau terjatuh saat perjalanan menuju lokasi labuhan.

"Benda-benda yang dilabuh ini merupakan barang yang paling disukai Sultan. Ini memiliki makna jika Sultan sendiri sudah merelakan barang yang disukainya maka diharapkan bisa membawa berkah bagi masyarakat Yogyakarta," kata "abdi dalem" utusan Sri Sultan HB X, KRT Rinta Iswara.

Menurut dia, labuhan pada 2013 itu merupakan labuhan alit atau labuhan biasa, yang merupakan labuhan tahunan dalam rangka memperingati "Tingalan Dalem" atau naik tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ia menjelaskan labuhan itu sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat perlindungan dan kesejahteraan yang diberikan kepada Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

"Barang-barang ini dilabuh di tempat-tempat tertentu yang memiliki hubungan historis dengan Kesultanan Yogyakarta sebagai penerus Kerajaan Mataram," katanya.

Barang-barang yang dilabuh tersebut meliputi sembilan macam, yaitu kain dengan motif "sinjang kawung", "sinjang kawung kemplang", "desthar daramuluk", "desthar udaraga", "semekan gadung mlati", "semekan gadung", "seswangen (semacam rokok), arta tindih (uang pecahan), dan "kampuh paleng".

(V001)



Pewarta :
Editor: Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026