Logo Header Antaranews Jogja

Sleman akan jadi sentra pengembangan bambu

Selasa, 16 Juli 2013 19:57 WIB
Image Print
Perajin mebel bambu di Dusun Sendari, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta (Foto antarafoto.com)

Sleman (Antara Jogja) - Kementerian Kehutanan berencana untuk menjadikan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai sentra pengembangan komoditas bambu karena pesatnya perkembangan tanaman tersebut dan industri kerajinan bambu di wilayah itu.

Sebagai langkah awal untuk menjadikan Sleman serbagai sentra pengembangan komoditas bambu, Bupati Sleman Sri Purnomo, Selasa bertemu dengan Dirjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan Haryadi Himawan serta Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta.

"Pertemuan tersebut dalam rangka koordinasi guna menyamakan persepsi antara warga yang memiliki tanaman bambu, perajin, pemasar kerajinan bambu serta pemerintah tentang bagaimana kendala dalam mengembangkan industri bambu," kata Kepala Bagian Humas Setda Kabupaten Sleman Endah Sri Widiastuti.

Menurut dia, hal ini dilatarbelakangi banyaknya penduduk Kabupaten Sleman yang bermata pencaharian di bidang kerajinan bambu.

"Pada akhir 2012 di Sleman terdapat 1.759 unit usaha yang mengelola kerajinan bambu yang terkonsentrasi di Mlati, Moyudan, Minggir dan Godean," katanya.

Jumlah tersebut menyerap tenaga kerja sebanyak 3.497 orang dengan nilai investasi sebesar Rp10 miliar dan nilai produksi Rp13 miliar.

"Hasil dari industri kerajinan bambu tersebut juga telah menembus pasar dunia," katanya.

Populasi tanaman bambu di Sleman cukup banyak. Pada tahun ini jumlahnya mencapai 733.545 batang, yang sebagian besar berada di Pakem, Cangkringan dan Turi.

"Sedangkan kebutuhan bambu pada 2011 mencapai 817.860 batang per tahun," katanya.

Dalam rapat koordinasi ini Bupati Sleman Sri Purnomo menyambut baik usulan ini karena mampu member nilai tambah bagi seluruh masyarakat.

"Bupati berharap proyek ini mampu memberikan pelatihan bagi para pengrajin tentang cara-cara meningkatkan nilai ekonomis bambu," katanya.

Akan jauh lebih baik jika bambu yang diperjualbelikan telah diolah terlebih dahulu misalnya dengan diawetkan sehingga menguntungkan serta mampu memperpanjang masa penggunaan bambu.

Endah mengatakan, selama ini sejumlah masyarakat pengrajin komoditas bambu mengeluhkan tentang sulitnya memasarkan kerajinan bambu dengan harga memuaskan. Hal ini sangat disayangkan mengingat pada pohon bambu dapat dimanfaatkan dari semua bagian mulai dari akar, rebung, batang pohon, ranting serta daunnya.

"Dengan penerapan teknologi yang tepat, komoditas bambu dapat dikembangkan lebih bernilai tinggi," katanya.

Kepala Sub Bagian Program dan Pelaporan, Balai Besar Kerajinan dan Batik Retno Widiastuti, mengatakan bahwa bambu di Sleman telah maksimum dikembangkan mulai dari produk makanan, kerajinan akar bambu, furniture, alat rumah tangga dan lainnya sejak 1937.

"Untuk mengoptimalkan pemanfaatan bambu maka masyarakat perlu diedukasi tentang teknologi tinggi dan peningkatan keterampilan pengrajin sehingga mampu meningkatkan pengolahan bambu tidak hanya sekadar menjadi furniture tapi juga mengembangkan teknologi pembuatan pulp, kertas, papan serat, asap cair dan lain sebagainya," katanya.
(V001)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026