Jogja (Antara Jogja) - Indonesia sedang dilanda "badai" korupsi berbasis teologi atau keagamaan, kata Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdul Munir Mulkhan.
"Pelaku tindak korupsi di negeri ini mulai merambah pada segala bidang dan kalangan elit negara, bahkan juga ada yang berlatar belakang gerakan keagamaan," katanya di Yogyakarta, Rabu.
Pada seminar "Kedaulatan Negara, Keamanan Bangsa, dan Kepemimpinan Nasional", gerakan atau komunitas keagamaan itu melihat Indonesia melalui dua sudut pandang berbeda.
Kelompok pertama memandang negeri ini sebagai rahmat dan berkah Tuhan, sehingga harus disyukuri dengan memakmurkan rakyat dengan mengelola alamnya secara profesional, sedangkan kelompok lain menempatkan negeri ini sebagai jembatan untuk melintas memasuki kawasan dan era yang dicitakan.
"Akibatnya, demokrasi dan pemilu atau pilkada menjadi media dan sarana mencapai tujuan ideal kekuasaan berbasis syariah yang mereka pahami secara harfiah," katanya.
Namun, kata dia, dalam perkembangannya kedua kelompok tersebut mulai bersinergi dengan jalan yang berbeda. Hal itu yang kemudian memunculkan gejala keberagamaan baru, yang pada akhirnya bisa menggerogoti keberadaan bangsa.
"Ketika mereka menempatkan harta negara bukan barang haram untuk dikorupsi, hanya semata-mata beralasan bahwa negeri ini tidak disusun berdasar syariat," katanya.
Ia mengatakan, dalam situasi korupsi yang semakin hari semakin melibatkan elit negeri yang berlatar belakang gerakan keagamaan, negeri ini bisa berada pada tebing jurang kehancuran.
"Sikap teologi umat Islam yang merupakan mayoritas penduduk negeri inilah yang akan menentukan ke arah mana bangsa ini akan menuju," katanya.
(B015)
Akademisi: Indonesia dilanda "badai" korupsi berbasis teologi
Ilustrasi (Foto antarabengkulu.com)
