Yogyakarta (ANTARA) - Ketua Umum (Ketum) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir mengajak insan pers dalam PWI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk menjadikan Yogyakarta sebagai kota pers Pancasila.
"Apa itu artinya, maka kita harus terus meneguhkan bahwa Pancasila, benteng yang harus kita jaga dalam menegakkan yang profesionalisme, martabat dan marwah pers Pancasila," kata Akhmad Munir saat melantik pengurus PWI DIY Masa Bakti 2025-2030 di Kepatihan Kantor Gubernur DIY, Kamis.
Menurut dia, menjadikan Yogyakarta sebagai kota pers Pancasila tersebut terinspirasi dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, guna menghadapi tantangan dan dinamika saat ini yang sangat kuat pengaruh dari disrupsi media, salah satunya kekuatan media sosial.
Ketum PWI mengatakan, pers Pancasila menjadi bagian yang perlu ditindaklanjuti oleh para insan pers, bahkan perlu menjadi bagian dari sebuah gerakan.
"Dengan demikian pers Pancasila menjadi bagian yang harus kita jaga, agar Pancasila bisa tercermin dalam karya-karya jurnalisme, dan tercermin bagi insan pers Yogyakarta untuk menjadi benteng dalam melakukan tugas tugas jurnalisme," katanya.
Akhmad Munir menilai dinamika dan tantangan jurnalisme saat ini menjadi tonggak bagi Yogyakarta untuk bisa merealisasikan sebagai kota pers Pancasila, sehingga menjadi bagian penting dari kehidupan pers nasional.
Baca juga: PWI Pusat anugerahkan anggota kehormatan kepada Sultan HB X
"Dengan demikian pers kita betul betul memiliki basis dasar yang filosofis terhadap keberadaan Pancasila di Kota Yogyakarta dan masyarakat pers Indonesia nantinya," katanya.
Ketum PWI menjelaskan, PWI yang lahir di Solo pada 9 Februari 1946, kehadirannya telah menunjukkan semangat perjuangan untuk terus bersama dengan pemerintah, dengan rakyat untuk menjadi bagian elemen bangsa yang strategis dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.
"PWI hadir dengan tantangan dan dinamika kebangsaan yang mengikuti sejarah perjuangan dan perkembangan dari kemajuan global dan kemajuan dinamika di Indonesia," katanya.
Namun demikian, kata dia, dalam perjalanannya sekarang ini tantangan PWI makin banyak dan harus tetap menjaga nilai nilai perjuangan, adalah tetap meneguhkan wartawan PWI sebagai alat atau insan perjuangan bagi kemajuan bangsa Indonesia.
"Kalau dulu menulis berita yang menggelorakan semangat perjuangan, maka sekarang kita harus terus mengobarkan semangat, meneguhkan tantangan bangsa Indonesia di tengah disrupsi teknologi informasi yang begitu pesat yang bisa memunculkan bencana informasi yang mengancam terhadap kelangsungan hidup bangsa Indonesia," katanya.
Baca juga: Ketua PWI meminta negara hadir membantu penguatan industri media
Baca juga: Ketua PWI sebut pemberitaan bencana harus mengedepankan aspek kemanusiaan
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ketum PWI ajak insan pers jadikan Yogyakarta kota pers Pancasila
