Logo Header Antaranews Jogja

Presiden: Mandela rekonsiliator agung

Jumat, 6 Desember 2013 16:25 WIB
Image Print
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (Foto ANTARA)

Bangkalan (Antara Jogja) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengucapkan belasungkawa atas wafatnya mantan Presiden Afrika Selatan dan pejuang kemanusian Nelson Mandela dan menyebutnya sebagai rekonsiliator gung.

"Beliau adalah rekonsiliator yang agung, demokrat sejati, bapak dan juga tokoh kemanusiaan dunia. Oleh karena itu sudah sepatutnya kalau bangsa Indonesia dan saya pribadi juga memberikan hormat kepada Presiden Mandela dan atas wafatnya hari ini kita mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya," kata Presiden di Pendopo Kabupaten Bangkalan, Madura, Jumat.

Presiden mengatakan, Mandela merupakan tokoh inspirasi kemanusiaan yang dikagumi dunia karena perjuangannya dan hatinya yang tulus dalam memperjuangkan bangsa dan kemanusiaan.

"Kita semua kagum kepada Presiden Mandela Puluhan tahun beliau meringkuk dalam penjara, oleh kaum kolonial katakanlah begitu, setelah ada perubahan, dan apartheid bisa dihentikan, beliau kemudian mendapatkan mandat oleh masyarakat Afrika Selatan untuk memimpin," kata Presiden.

Presiden menambahkan, "Tetapi Mandela memimpin dengan hatinya, tidak tercermin sama sekali yang namanya dendam ataupun membalas apa yang dideritanya selama puluhan tahun itu," kata Presiden.

Presiden melanjutkan, bahkan Mandela mengatakan 'there is no future without forgiveness', tidak ada masa depan tanpa maaf.

"Artinya beliau siap menanggung sudahlah yang lalu ya lalu, tapi saya menginginkan bangsaku, bangsa Afrika Selatan bersatu jangan menyimpan dendam, jangan balas membalas, agar negeri ini tumbuh dengan damai, dengan berhasil dan bangsanya makin kompak," kata Presiden

Turut mendampingi Presiden dalam kesempatan itu antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Menteri Pertanian Suswono, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan, dan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

Sementara itu media internasional mengabarkan bahwa Nelson Mandela, salah satu sosok utama dunia dalam abad 20, tutup usia dalam usia 95 tahun, Kamis waktu Afrika Selatan.

Berita pengumuman kematiannya disampaikan dengan penuh perasaan oleh Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma secara langsung melalui siaran televisi dengan menyebut bahwa Mandela "berangkat" dengan damai.

Mandela, yang terpilih sebagai presiden dari ras kulit hitam pertama di Afrika Selatan setelah hampir tiga dasawarsa mendekam di dalam penjara sebagai tahanan politik, sebelumnya menjalani perawatan di rumah sakit untuk mengobati infeksi paru sejak September.

Kesehatannya memburuk setelah mengalami komplikasi infeksi paru-paru, dan ia disebutkan meninggal dengan tenang dikelilingi oleh sanak keluarga.

Mandela akan memperoleh pemakaman kenegaraan secara penuh dan rakyat Afrika Selatan diminta mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati kepergiannya.

Mandela, yang pernah menjadi petinju, sudah lama diketahui mengalami masalah dengan kesehatan paru-parunya setelah terjangkit tuberkolosis saat ia ditahan di penjara Pulau Robben.

Peraih penghargaan Nobel Perdamaian itu mendekam di penjara selama 27 tahun sebelum akhirnya dibebaskan pada 1990 untuk memimpin Kongres Nasional Afrika (ANC) dan berunding dengan penguasa minoritas dari kelompok kulit putih --yang berujung pada pemilu banyak ras pada 1994.

Kemenangan Mandela membawanya menjadi presiden untuk satu masa jabatan kemudian ia mengambil peran sebagai negarawan dan pemimpin kampanye tentang AIDS lalu menarik diri dari peran publik pada 2004.
(M041*G003)



Pewarta :
Editor: Heru Jarot Cahyono
COPYRIGHT © ANTARA 2026