Logo Header Antaranews Jogja

Warga diminta laporkan unggas mati mendadak

Senin, 10 Februari 2014 16:36 WIB
Image Print
ilustrasi. seruu.com

Yogyakarta (Antara Jogja) - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian Kota Yogyakarta meminta warga segera melapor ke Unit Reaksi Cepat di instansi tersebut apabila menemukan unggas yang mati mendadak sebagai antisipasi penyebaran virus flu burung.

"Tindakan yang harus segera dilakukan oleh masyarakat apabila mengetahui ada unggas yang mati mendadak adalah melapor. Tim Unit Reaksi Cepat (URC) akan segera turun ke lapangan untuk melakukan tes cepat," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta Suyana di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, potensi munculnya penyakit zoonosis, seperti flu burung dan leptospirosis pada musim hujan meningkat dibanding musim kemarau.

Ia mengatakan, sudah ada laporan unggas mati mendadak yang diterima, yaitu berasal dari Kecamatan Umbulharjo pada awal Februari. Totalnya, ada sebanyak 18 itik yang mati di kecamatan tersebut.

Tim URC, lanjut dia, sudah melakukan "rapid test" dan hasilnya adalah negatif flu burung. Meskipun demikian, tim tetap mengirimkan sampel ke Balai Besar Veteriner untuk dilakukan uji laboratorium secara lengkap.

"Dari hasil diagnosa awal, dimungkinkan unggas tersebut tidak mati karena virus flu burung, tetapi disebabkan kondisi kandang yang sempit. Kandang itik berukuran 1,5x1,5 meter yang diisi sekitar 200 ekor itik usia satu bulan," tuturnya.

Namun demikian, lanjut dia, petugas tetap melakukan penyemprotan disinfektan selama tiga hari berturut-turut di kandang tersebut untuk mengantisipasi penyebaran virus.

"Kami juga telah memberikan cairan disinfektan kepada pemilik itik agar bisa melakukan penyemprotan sendiri, setidaknya dua kali dalam satu pekan," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengawasan Mutu dan Kesehatan Hewan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta Endang Finiarti mengatakan, stok cairan disinfektan masih sangat mencukupi.

"Jika ada laporan, maka kami akan segera menindaklanjutinya. Masyarakat pun bisa mengajukan permohonan agar bisa memperoleh disinfektan," ujarnya.

Pada 2013, di Kota Yogyakarta diketahui terjadi dua kali kasus flu burung yaitu di Giwangan pada Maret, serta di Karangwaru pada November, keduanya menyerang ayam. Di Giwangan terdapat lima ekor ayam mati dari 12 ekor ayam, sedang di Karangwaru terdapat enam ekor ayam mati dari 20 ekor ayam dalam satu populasi.

"Kami juga melakukan vaksinasi flu burung untuk unggas milik kelompok-kelompok tani," katanya.

(T.E013)



Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026