
Semifinalis hasil realistis Indonesia di Piala Thomas

New Delhi, (Antara Jogja) - Dibanding pada Piala Thomas dua tahun lalu, setidaknya tim bulu tangkis Indonesia mencatat kemajuan dengan bisa mencapai babak semifinal pada kejuaraan beregu yang berlangsung di India 18-25 Mei 2014.
Jka pada Piala Thomas 2012 di Wuhan, China, Indonesia hanya mencapai perempatfinal, kini dengan anggota tim yang relatif sama bisa bertahan hingga babak empat besar sebelum dikalahkan Malaysia.
Harapan membawa kembali Piala Thomas sejak 2002 untuk sementara belum bisa tercapai tahun ini.
Persiapan Indonesia dalam menghadapi Piala Thomas 2014 sebenarnya sudah lebih dari cukup.
Pelatnas digelar sekitar dua bulan menjelang event dimulai. Termasuk juga mengkarantinakan para calon pemain di pelatnas khusus di Kudus Jawa Tengah, sebelum menetapkan tim inti.
Catatan prestasi pemain Indonesia pun tidak terlalu buruk untuk bersaing di Piala Thomas ini, bahkan mereka ditempatkan sebagai unggulan pertama.
Ada ganda putra nomor satu dunia Hendra Setiawan/Moh Ahsan, dan ada juga tunggal putra peringkat lima dunia Tommy Sugiarto.
Selain itu mereka juga didukung oleh pemain-pemain sudah cukup berpengalaman, meski peringkatnya belum masuk 10 besar seperti Dionysius Hayom Rumbaka, juara Singapura Terbuka 2014 Simon Santono dan pasangan Ryang Agung/Angga Pratama.
Namun dengan modal dua pemain yang masuk lima besar dunia, serta persiapan khusus yang dilakukan PBSI, ternyata belum cukup untuk menggapai harapan meraih juara supremasi bulu tangkis beregu putra ini.
Tunggal pertama Tommy yang menjadi andalan untuk memotivasi pemain-pemain berikutnya, ternyata hanya bisa menang di awal babak kualifikasi melawan pemain yang peringkatnya jauh di bawahnya.
Begitu menghadapi pemain dengan level yang sama seperti Boonsak Ponsana (Thailand), Sun Wan Ho (Korea) dan Lee Chong Wei (Malaysia), Tommy gagal menyumbang angka penting bagi timnya.
Hendra Setiawan/Ahsan masih bisa menunjukkan kelasnya sebagai ganda putra nomor satu dunia. Namun akhirnya tergelincir pada pertandingan semifinal yang penuh tekanan melawan pasangan Malaysia.
Realistis
"Hasil ini harus diterima, dalam pertandingan memang ada menang, ada kalah," demikian komentar Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Gita Wirjawan usai menyaksikan semifinal Piala Thomas di New Delhi.
Ia juga mengakui hasil yang dicapai Indonesia agak di luar dugaan sebelumnya, namun itulah hasil realistis yang dicapai.
Sementara itu Menpora RI Roy Suryo yang juga menyaksikan langsung penampilan Tommy Sugiarto dkk di India, mengatakan bahwa sebenarnya usaha yang dilakukan pemain dan pembina bulu tangkis Indonesia sudah maksimal.
"Penampilan pemain kita di India ini sudah luar biasa, tapi kita harus akui bahwa pemain dari negara lainnya juga mengalami kemajuan yang pesat," kata Menpora.
"Para pemain sudah tampil luar biasa, tapi inilih hasil yang realistis yang harus kita terima," kata Menpora.
Di Piala Thomas tahun ini, kata Menpora, banyak terjadi kejutan adanya kemajuan sejumlah negara yang sebelumnya kurang diperhitungkan.
Misalnya tim putra Jepang yang mampu mematahkan dominasi Tiongkok pada babak final.
Demikian juga pada Piala Uber, dimana tim putri India untuk pertama kalinya bisa lolos sampai babak semifinal.
Untuk ke depannya, menurut Menpora, PBSI perlu memikirkan metode-metode pelatihan baru, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang sudah berkembang untuk pembinaan olah raga.
"Saya senang melihat olahraga bulu tangkis terus berkembang, dan makin meratanya kekuatan pemain dari berbagai negara, oleh sebab itu kita harus bisa terus mengikuti perkembangan ini," kata Menpora.
Regenarasi menjadi hal mutlak dilakukan PBSI, kata Menpora.
Ia optimis di kelompok putra banyak pemain-pemain di lapis kedua yang siap untuk menjadi pemain masa depan.
Namun di kelompok putri, kata Menpora, PBSI harus berupaya lebih keras untuk menyiapkan pengganti generasi Lindaweni dkk, karena masih terlihat gap yang jauh di bawahnya.
Indonesia mungkin masih bisa menghibur diri dengar dengan catatan prestasi sebagai negara yang paling sering menjuarai Piala Thomas (13 kali).
Namun tanpa mengikuti perkembangan bulu tangkis dunia dan kurang memperhatian regenerasi pemain, maka catatan prestasi emas itu mungkin hanya sekedar sejarah yang sulit diwujudkan lagi.
T004
Pewarta : Oleh Teguh Handoko
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
