
Ekonom: pemerintah baru perlu pertimbangkan RON 90

Jogja (Antara Jogja) - Wacana pengadaan bahan bakar minyak dengan nilai "research octane number" 90 sebagai pengganti premium perlu dipertimbangkan kembali oleh pemerintah baru, kata ekonom Universitas Gadjah Mada Rimawan Pradiptyo.
"Dengan pemakaian BBM yang memiliki nilai `research octane number` (RON) 90, pemerintah bahkan bisa menghemat 45 persen dari subsidi BBM yang telah dicanangkan," katanya di Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, dengan beralih kepada RON 90, ke depan masyarakat tidak hanya terbebani dengan dampak kenaikan harga BBM, namun juga diuntungkan karena mendapatkan kualitas BBM yang lebih baik.
Ia mengemukakan bahwa opsi tersebut kemungkinan lebih dapat diterima masyarakat.
"Jadi jangan hanya pemerintah menaikkan subsidi, tapi konsumen pun diuntungkan dengan mendapatkan (BBM, red.) kualitas yang lebih bagus," kata dia.
RON 90 merupakan pencampuran antara BBM dengan kualitas RON 88 (premium) dan RON 92 (pertamax), sehingga diperkirakan harganya pun akan mengalami kenaikan menjadi Rp9.000 per liter.
Menurut dia, dengan pengadaan BBM kualitas RON 90, artinya pemerintah juga memunculkan produk baru berupa produk BBM menengah dengan kualitas di atas premium dan di bawah pertamax yang lebih ramah lingkungan, serta menekan kerusakan pada mesin. "Saya kira dengan Rp9.000 masyarakat masih diuntungkan karena mendapatkan kualitas yang lebih bagus," kata dia.
Menurut dia, alokasi subsidi BBM ke depan memang harus dikurangi secara berjenjang.
Alokasi subsidi BBM yang saat ini diberikan pemerintah, katanya, masih terlalu besar.
Dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015 subsidi BBM diproyeksikan mencapai Rp291,77 triliun.
(KR-LQH)
Pewarta : Oleh Luqman Hakim
Editor:
Masduki Attamami
COPYRIGHT © ANTARA 2026
