
Dinkes Sleman prioritaskan pengendalian penyakit DBD

Sleman (Antara Jogja) - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta masih memprioritaskan pengendalian penyakit demam berdarah dengue karena sudah menyebar di 17 kecamatan.
"Pengendalian penyakit DBD menjadi skala prioritas. Karena pada tahun ini sampai 29 Februari telah terjadi 156 kasus dengan kematian tiga orang," kata Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr Novita Krisnaeni, Jumat.
Menurut dia, pada 2014 di Kabupaten Sleman terjadi 538 kasus DBD dengan kematian empat orang dan pada 2015 terjadi kasus DBD 520 kasus dengan kematian sembilan orang.
"Sebagian besar kematian akibat DBD tersebut disebabkan keterlambatan membawa pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang merupakan rumah sakit rujukan," katanya.
Ia mengatakan, naikanya kasus DBD tersebut dipengaruhi banyak faktor antara lain pengaruh iklim yakni musim hujan sehingga banyak genangan air hujan yang potensial menjadi tempat perindukan nyamuk aedes aegypty.
"Juga kelembapan udara ditambah lagi dengan perilaku masyarakat yang kurang peduli dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)," katanya.
Novita mengatakan, untuk menekan angka kasus DBD maka Dinkes Sleman melakukan berbagai upaya antara lain penyebaran leaflet DBD ke masyarakat, meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan memperluas pembentukan kader juru pemantau jentik (jumantik) di beberapa puskesmas, termasuk pembentukan jumantik cilik.
"Jumlah kelompok jumantik cilik di Kabupaten Sleman ada 45 kelompok dengan jumlah kader 1.527 kader dan kader jumantik dewasa sebanyak 9.242 kader," katanya.
Ia mengatakan, di Kabupaten Sleman sampai saat ini terdapat delapan wilayah kecamatan endemis tinggi penyakit DBD.
"Delapan wilayah yang endemis tinggi DBD tersebut yakni, Kecamatan Depok, Kaalasan, Gamping, Berbah, Ngaglik, Mlati, Berbah dan Sleman," katanya.
V001
Pewarta : Victorianus Sat Pranyoto
Editor:
Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
