Logo Header Antaranews Jogja

Hipmi segera kembangkan industri ampas

Rabu, 16 November 2016 12:00 WIB
Image Print
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (antaranews)

Yogyakarta (Antara Jogja) - Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Teddy Karim menyatakan pihaknya segera mengembangkan industri ampas/sisa industri makanan di DIY bersama dengan anggota.

"Peluang usaha sangat besar, karena itu kami segera menggarap industri ampas/sisa industri makanan di DIY sebagai salah satu program unggulan," ujarnya dalam diskusi Hipmi di kompleks Galeria Mall, Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, dengan besarnya potensi ekonomi yang ditawarkan oleh industri ampas/sisa industri makanan, membuat banyak pihak menyayangkan tidak adanya optimalisasi program yang dilakukan pemerintah untuk menangkap peluang tersebut.

Ia mengatakan, salah satu upaya yang akan dilakukan pihaknya adalah mendorong para pengusaha muda baru yang fokus menggarap sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.

Khusus bagi yang mengembangkan pertanian, kata dia, bisa mengelola usahanya dengan menggunakan teknologi, sehingga bisa meningkatkan kapasitas produksi.

"Dari peningkatan kapasitas produksi itu, maka ampas atau sisa pertanian yang selama ini dibuang karena menjadi sampah, bisa digunakan menjadi pakan ternak yang kemudian dibeli oleh anggota Hipmi yang mengelola peternakan dan perikanan. Artinya, kami akan menciptakan siklus usaha yang saling menguatkan, dari hulu ke hilir," terang Teddy.

Teddy menargetkan pihaknya mampu menarik sekitar lima hingga 10 persen dari total nilai impor ampas/sisa industri makanan periode Oktober 2016, sebesar 211,1 juta dolar AS, atau setara dengan 10,5 juta dolar AS hingga 21 juta dolar AS.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja impor ampas/sisa industri makanan periode Januari-Oktober 2016 mencapai Rp27,48 triliun atau setara dengan 2.065,9 juta dolar AS (Rp13.300/1 dolar AS, red).

Impor ampas/sisa industri makanan itu khususnya adalah ampas atau sisa dari industri makanan dari luar negeri yang akan digunakan sebagai pakan ternak di Indonesia.

Lebih jauh data BPS juga mencatat, terjadi penurunan impor ampas/sisa industri makanan ke Indonesia periode Januari-Oktober 2016 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar 2,302 juta dolar AS, dan sebesar 211,1 juta dolar AS periode Oktober 2016.

"Jadi, bisa diperkirakan bahwa secara rata-rata nilai impor ampas/sisa industri makanan mencapai 200 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,66 triliun. Itu angka yang sangat besar dari sektor yang tidak memerlukan energi khusus. Artinya, selama ini industri potensial seperti itu telah tersia-siakan. Hipmi DIY mau kelola itu secara optimal," papar Teddy. (KR-RHN)




Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2026