
Pemerintah perlu mengoptimalkan penggunaan anggaran riset

Jakarta (Antaranews Jogja) - Pemerintah perlu fokus mengoptimalkan penggunaan anggaran untuk pengembangan riset nasional untuk inovasi dan pengembangan teknologi di berbagai bidang, seperti di sektor pertanian nusantara.
Kepala Bagian Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi dalam rilis, Minggu, mengingatkan, dalam APBN 2016-2017, anggaran untuk penelitian dan pengembangan adalah sebesar Rp26 triliun, namun hanya Rp10 triliun yang digunakan untuk penelitian.
"Sebanyak Rp16 triliun anggaran digunakan untuk membiayai kegiatan operasional, seperti membayar gaji pegawai dan lain-lain," kata Hizkia.
Menurut dia, hal tersebut yang menjadi salah satu alasan tidak efektifnya langkah pemerintah yang akan membentuk badan riset nasional.
Ia berpendapat bahwa penggunaan anggaran riset yang optimal salah satunya adalah dengan menjembatani riset dengan pihak industri.
Dengan adanya hubungan baik antara keduanya, kegiatan riset di Tanah Air akan berakibat positif terhadap perekonomian Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga harus mendorong meratanya kegiatan riset di berbagai bidang. Beragamnya sebaran bidang riset akan mendukung perkembangan bidang-bidang seperti pertanian, kesehatan, lingkungan, teknologi dan masih banyak lagi, selain bidang industri.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman bersama-sama dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir menegaskan pentingnya pengembangan inovasi sektor pertanian nasional.
Saat mengunjungi Badan Penelitian dan Pengembanggan Pertanian Mekanisasi Pertanian di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (1/3), Mentan menegaskan, kalau ingin pertanian maju harus dengan mekanisasi, harus dengan teknologi.
Menurut Amran, sejumlah inovasi dalam alat mesin pertanian terbukti dapat mempercepat produksi dan meningkatkan produktivitas hingga sebanyak 40-50 persen.
Untuk itu, ujar dia, paradigma pengembangan sektor pertanian harus diubah dari metode tradisional menjadi mekanisme yang lebih moderen dengan pendekatan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi para petani.
Sementara itu, Menristekdikti mengemukakan, kawasan sains dan enjiniring pertanian moderen di Serpong merupakan kawasan yang ditunjuk Kementan untuk mengembangkan inovasi sektor pertanian.
M Nasir menambahkan, sinergi ini diharapkan bisa menciptakan swasembada yang lebih baik, meningkatkan efisiensi, dan mendapatkan nilai tambah bagi masyarakat.
Untuk itu, ujar dia, diharapkan koordinasi ke depannya dapat benar-benar ditingkatkan sehingga dapat betul-betul memberikan nilai tambah, serta agar warga dapat seluas-luasnya dapat menggunakan inovasi sektor pertanian tersebut.
Saat ini, Kawasan Sains dan Enjiniring Pertanian Moderen Serpong sudah membangun sejumlah infrastruktur penunjang seperti gedung galeri, rumah tanam terkendali berbasis teknologi informasi, penataan sistem irigasi mikro dan embung, serta penataan lahan dan jalan usaha tani guna mendukung komoditas padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabe, dan tebu.
Pewarta : Muhammad Razi Rahman
Editor:
Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
