Ketersediaan alat dan pulsa jadi kendala belajar daring di Kota Yogyakarta

id belajar daring,pulsa,HP,kendala

Ketersediaan alat dan pulsa jadi kendala belajar daring di Kota Yogyakarta

Sejumlah guru di SMP Negeri 9 Yogyakarta tengah memberikan materi pelajaran dalam proses pembelajaran secara daring dengan siswa, Senin (3/8/2020). (ANTARA/Eka A.R.)

Yogyakarta (ANTARA) - Proses pembelajaran secara daring yang dilakukan saat pandemi COVID-19 masih menyisakan sejumlah permasalahan di Kota Yogyakarta, terutama ketersediaan peralatan pendukung, seperti telepon genggam maupun laptop dan pulsa untuk membeli paket data internet.

“Persoalan dasar yang sampai sekarang belum bisa diselesaikan secara tuntas adalah masalah ketersediaan alat dan pulsa internet. Itu masalah dasar yang belum bisa diatasi secara tuntas,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi saat meninjau program Guru Berkunjung di Yogyakarta, Senin.

Berdasarkan survei Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, masih sekitar 14 persen keluarga menyatakan hanya memiliki satu telepon genggam yang mampu mendukung kegiatan belajar daring, padahal dalam keluarga tersebut memiliki lebih dari satu anak yang harus mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Sekitar 34 persen keluarga lainnya menyatakan kesulitan akses internet karena tidak mampu membeli pulsa atau paket data internet.

“Bisa saja dalam sehari setiap keluarga menghabiskan dana sekitar Rp50.000 untuk membeli paket data internet jika ada lebih dari satu anak yang bersekolah 'online' (daring). Kalau tiap hari seperti itu, tentu saja cukup berat,” katanya.

Sejumlah materi pembelajaran juga cukup banyak menyedot data internet karena harus disampaikan dalam bentuk video dan "power point", salah satunya untuk mata pelajaran Matematika.

Di jenjang SMP negeri, lanjut Heroe, dari dua per tiga siswa bisa mengikuti pembelajaran daring dengan lancar karena akses internet dan alat tercukupi, namun masih ada satu per tiga siswa yang tidak bisa mengikuti pelajaran secara lancar.

“Salah satunya karena akses internet,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, kendala lain yang dihadapi dalam pembelajaran jarak jauh adalah keterbatasan orang tua dalam mendampingi anak belajar secara daring.

“Banyak orang tua yang tidak mampu mengajari anaknya karena keterbatasan kemampuan mereka,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut Heroe, perlu dicarikan solusi yang paling tepat untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut, salah satunya dengan program Guru Berkunjung dan mengajak pihak swasta memberikan bantuan peralatan dan akses internet kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam program Guru Berkunjung, setiap sekolah akan memetakan siswa yang mengalami kesulitan belajar secara daring.

“Jika hanya ada satu atau dua siswa yang mengalami kendala, maka guru bisa saja berkunjung ke rumah,” katanya.

Namun demikian, katanya, jika di setiap sekolah terdapat cukup banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar daring, maka nanti akan dibuat kelompok siswa yang akan dikunjungi guru, misalnya di Balai RW atau di sekolah secara terbatas.

Khusus untuk di sekolah, lanjut Heroe, masih harus dilakukan simulasi dan uji coba secara terbatas.

Ia pun mengharapkan lebih banyak pihak swasta memberikan bantuan peralatan pendukung pembelajaran daring, seperti dilakukan Jogjabike dengan memberikan tablet kepada siswa yang membutuhkan.

Kepala SMP Negeri 9 Yogyakarta Sugiharjo mengatakan program Guru Berkunjung baru dilakukan kepada satu siswa yang kebetulan anak berkebutuhan khusus.

“Guru berkunjung ke rumah untuk memberikan dukungan agar siswa tetap bisa belajar secara 'online'. Kebetulan, siswa ini ‘slow learner’,” katanya.

Ia menyebut orang tua siswa yang bersangkutan rutin mengambil dan menyerahkan kembali tugas ke sekolah setiap pekan sekali.

Untuk mengumpulkan siswa dalam jumlah terbatas guna pembelajaran tatap muka, katanya, masih harus disiapkan dengan baik.

“Jika satu sampai empat siswa mungkin bisa kami layani,” katanya.

Namun demikian, lanjut dia, jika harus melakukan pembelajaran tatap muka dengan cara pembagian sif, belum bisa dilakukan.

“Tentunya kami meminta petunjuk Dinas Pendidikan dan harus ada izin dari gugus tugas di wilayah,” katanya.

Salah satu siswa yang menerima bantuan tablet, Elang Prima Nusabakti, mengatakan selama ini menggunakan telepon genggam ibunya untuk mengikuti pelajaran daring.

“Pake HP ibu. Tetapi lebih suka di sekolah karena bisa diajarin langsung sama guru,” kata siswa kelas 3 SD Rejowinangun 3 itu.

Tugas dari pembelajaran daring biasanya dikumpulkan satu pekan sekali, namun orang tua Elang mengeluhkan anaknya sulit diajak bersekolah daring karena lebih senang bermain saat jam belajar.
 

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar